TABANAN, MEDIAPELANGI.com – Jajaran Sat Reskrim Polres Tabanan Bali berhasil mengungkap fakta atas kasus penculikan yang menghebohkan di media sosial. Awalnya kasus ini mencuat setelah seorang wanita berumur 19 tahun mengaku sebagai korban penculikan.
Namun, setelah dilakukan pemeriksaan dan pendalaman, ternyata kasus penculikan ini hanya sebuah rekayasa. Wanita yang mengaku sebagai korban penculikan berinisial DAT warga Desa Pandak Gede, Kecamatan Kediri ini ternyata hanya mengarang cerita sebagai korban penculikan agar tidak dimarahi suaminya karena pulang hingga larut malam.
Dugaan penculikan ini di ketahui terjadi pada hari Sabtu (30/4/ 2022) berawal saat mereka sedang mencari buah pepaya untuk sayur di Banjar Mangening, Desa Nyitdah, Kecamatan Kediri, kemudian datang GA dengan dua temannya membekap korban lalu di bawa ke dalam mobil dan mulut disumpal kain putih, tangan diikat tali rapia, kaki diikat dengan tali sapi. Kemudian dibawa ke sebelah Taman Ayun, Mengwi, Badung.
Kapolres Tabanan AKBP Ranefli Dian Candra menjelaskan berdasarkan hasil penyelidikan dan pendalaman dari Sat Reskrim Polres Tabanan bahwa kasus tersebut merupakan rekayasa yang seolah-olah terjadi korban penculikan.
Korban diketahui pergi bersama dengan pria lain hingga dini hari dan mengatakan salah satu pelaku penculikan bernama Gede Amo (28) asal Banjar Bantas, Desa Sudaji, Sawan, Buleleng, setelah dikonfirmasi tidak tahu-menahu dengan kasus tersebut”, ungkap Kapolres.
Lebih lanjut Kapolres menjelaskan korban DAT pergi dengan seorang pria yang baru dikenal di media sosial, karena pulang terlalu larut pagi takut dimarahi suami kemudian korban DAT Meminta saran dan meminta perlindungan kepada mertuanya, Kemudian mertuanya menyarankan untuk membuat cerita bahwa seolah olah diculik dan di ikat tangan dan kakinya serta mulut disumpal dengan kain.
Berdasarkan hasil pemeriksaan Unit PPA Sat Reskrim Polres Tabanan dan berdasarkan pemeriksaan saksi-saksi serta korban, dapat disimpulkan bahwa penculikan dan penyekapan tersebut adalah merupakan rekayasa korban sendiri, karena takut dimarahi suami pulang larut malam.
Sampai saat ini kasus masih dilakukan pendalaman di Unit PPA Sat Reskrim Polres Tabanan dan juga akan di lakukan pemeriksaan secara psikologinya,” jelas Kapolres.
Setelah dilakukan mendalam, menurut Kapolres Tabanan AKBP Renefli Dian Candara, kronologi yang diceritakan DAT hanyalah rekayasa.
Menurut AKBP Renefli, DAT sengaja membuat sandiwara setelah pergi dengan pria lain yang baru dia kenal lewat medsos.
Karena pulang terlalu larut, DAT lantas menyusun sandiwara agar suaminya tak marah. Keduanya lantas memutuskan untuk bertemu. Dan mereka pun kencan hingga pukul 03.00 Wita.
Bingung dan panik karena sudah terlalu larut untuk pulang, DAT lantas menghubungi ayah mertua untuk meminta perlindungan. Namun oleh ayah mertuanya, DAT diberi saran membuat sandiwara penculikan ini.
Ia langsung diberi seutas tali oleh ayah mertuanya. Dan seolah olah sebagai korban penculikan. “Nah setelah itu, peristiwa itu kemudian mengalir hingga laporannya sampai ke kepolisian,”katanya.
Kini Polisi masih terus mendalami keterangan dari sejumlah saksi, termasuk mertua DAT juga teman kencannya.
Korban membuat rekayasa bahwa dirinya di culik, padahal korban sengaja pergi bersama pria lain. Karena takut suaminya marah pulang hingga larut malam
Dengan menghubungi ayah mertua untuk meminta perlindungan. Namun oleh ayah mertuanya memberi saran membuat sandiwara penculikan agar tidak dimarahi oleh suaminya. “Jadi tidak ada penculikan itu semua rekayasa korban sendiri dibantu ayah mertuanya karena takut di marahi suaminya keluar hingga larut malam,” tegas AKBP Renefli.[mp]
Dapatkan Update Terbaru!
Ikuti kami agar tidak ketinggalan info terbaru. GRATIS!!!











