
GIANYAR, MEDIAPELANGI.com – Gubernur Bali Wayan Koster menghadiri dan mengikuti persembahyangan Tawur Tabuh Gentuh yang merupakan bagian dari Karya Agung Memungkah, Tawur Tabuh Gentuh, Tawur Pedanan, Padudusan Agung, Ngusaba Desa lan Ngusaba Nini di Pura Agung Payangan, pada Wrespati Kliwon Warigadian, Kamis (3/4). Hadir juga dalam kesempatan tersebut Bupati Gianyar I Made Agus Mahayastra beserta Istri, Ketua DPRD Kabupaten Gianyar I Ketut Sudarsana, Anggota DPRD Provinsi Bali Putu Diah Pradnya Maharani dan undangan lainnya.
Dalam kesempatan ini, Gubernur Koster yang mengapresiasi karya upacara tersebut yang di informasikan dari Bendesa Adat setempat terakhir di laksanakan pada tahun 1960. Untuk itu, Gubernur Koster sangat mengapresiasi masyarakat Payangan, karena bagi Koster, inilah kearifan lokal, tradisi serta adat budaya Bali yang harus di rawat, dilestarikan serta harus diwariskan kepada generasi selanjutnya.
“Suatu kehormatan tiyang di undang ke sini. Warga juga begitu antusias hadir untuk upacara ini. Jujur, tiyang kaget dan kagum mendengar karya yang sudah puluhan tahun Tidak di laksanakan dan sekarang di laksanakan kembali. Luar biasa, saya sangat mengapresiasi, Inilah kearifan lokal kita yang di wariskan leluhur kita untuk dilestarikan ,” jelas Koster.
“Upacara ini harus kita pelihara terus. Inilah yang tiyang jalankan saat menjadi Gubernur Bali 2018-2023 dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali. Yaitu menjalankan tatanan kehidupan masyarakat berdasarkan nilai kearifan lokal Bali. Yang dinamai Sad Kerthi. Enam sumber utama kesejahteraan kehidupan manusia dan semua ciptaan Tuhan Yang Maha Esa (Sang Widhi Wasa),” jelasnya kembali.
Ia menerangkan, enam Sad Kerthi tersebut yakni Atma Kerthi, Segara Kerthi, Danu Kerthi, Wana Kerthi, Jana Kerthi, dan Jagat Kerthi.
“Semuanya di muliakan dan di harmoniskan untuk menjaga alam tetap lestari dan memberikan sumber kehidupan bagi masyarakat,” katanya.
Gubernur Koster begitu konsen dengan seni budaya, tradisi, adat, agama dan kearifan lokal selama memimpin Bali. Sejumlah regulasi dan programnya berpihak ke alam, budaya dan krama Bali.
“Upacara ini harus terus di jalankan, agar terus hidup sepanjang masa bisa di wariskan kepada anak cucu. Agar tetap survive, eksis, sejahtera secara sekala dan niskala,” tegasnya.
Menurut Gubernur Koster, luar biasa ajaran leluhur di Bali, untuk itu krama Bali harus menjaga dan melestarikannya demi menyeimbangkan kehidupan alam, manusia, dan budaya Bali.
“Astungkara terus di jalankan seperti ini karena menjadi kebanggaan kita, dan demi membalut pariwisata Bali,” katanya.
Rangkaian karya tersebut di laksanakan dari tanggal 1 April sampai dengan penyineban pada tanggal 16 April 2025.[*]