DENPASAR, MEDIAPELANGI.com – Pariwisata Bali harus tetap berakar pada budaya karena budaya merupakan fondasi utama yang memberikan keunikan, nilai jual, dan jati diri yang membedakannya dari berbagai destinasi wisata lain di dunia.
Hal tersebut disampaikan Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah Provinsi Bali, Putri Koster, saat membuka Pameran Seni Rupa bertajuk “Tutur Ayu” yang digelar oleh Komunitas Soko Guru di Griya Santrian Art Gallery, Jumat (6/3) malam.
Menurut Putri Koster, kekuatan utama Bali sebagai destinasi wisata dunia tidak hanya terletak pada keindahan alamnya, tetapi juga pada kekayaan budaya yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Bali.
Ia menegaskan bahwa tanpa akar budaya yang kuat, Bali berisiko kehilangan identitas serta daya tarik yang selama ini menjadikannya sebagai salah satu tujuan wisata paling terkenal di dunia.
“Pariwisata Bali harus tetap berakar pada budaya. Budaya adalah fondasi yang memberikan keunikan dan jati diri Bali,” ujarnya.
Putri Koster yang juga dikenal sebagai seniman multitalenta menjelaskan bahwa konsep Tutur Ayu dalam kehidupan masyarakat Bali merupakan sebuah wejangan atau petuah yang dijadikan pedoman dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, nilai-nilai yang terkandung dalam Tutur Ayu memiliki makna yang sangat dalam karena berisi nasihat kehidupan yang sarat dengan kebijaksanaan serta nilai moral.
Melalui pameran seni rupa tersebut, generasi muda Bali diharapkan dapat memahami berbagai dinamika kehidupan masyarakat Bali yang saat ini mulai mengalami perubahan seiring perkembangan zaman.
“Melalui goresan tangan para seniman di atas kanvas, kita bisa melihat berbagai dinamika kehidupan masyarakat Bali yang perlahan mengalami pergeseran,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa ruang bagi para perupa Bali untuk mengekspresikan idealisme mereka masih sangat terbuka. Oleh karena itu, para seniman diharapkan tetap menjaga semangat berkarya sekaligus mempertahankan nilai-nilai budaya Bali dalam setiap karya yang dihasilkan.
“Ruang-ruang perupa itu masih ada. Idealisme dan tutur-tutur kehidupan itu dapat diguratkan melalui karya seni,” katanya.
Putri Koster juga menegaskan bahwa Tutur Ayu harus terus dijadikan pegangan hidup oleh masyarakat Bali agar nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya tetap terjaga dan lestari secara turun-temurun.
Menurutnya, pameran seni seperti ini tidak hanya menghadirkan keindahan visual, tetapi juga menyampaikan pesan moral serta kebijaksanaan yang dapat menjadi refleksi bagi generasi muda Bali.
“Pameran ini menyampaikan pesan dan nasihat yang sarat nilai moral dan kebijaksanaan bagi generasi Bali saat ini,” imbuhnya.
Ia juga mengingatkan bahwa di tengah derasnya perkembangan teknologi dan modernisasi, masyarakat Bali harus mampu menjaga keseimbangan antara kemajuan zaman dengan pelestarian budaya.
Bali, kata dia, harus tetap berakar pada budaya lokal namun juga tidak tertinggal dalam perkembangan teknologi dan globalisasi.
“Bali harus tetap berakar pada budaya, tetapi juga harus mampu mengikuti perkembangan teknologi agar dapat sejajar dengan daerah lain,” tegasnya.
Sementara itu, penulis sekaligus pemerhati seni, I Made Susanta Dwitanaya, mengatakan bahwa pameran Tutur Ayu lahir dari perjalanan panjang pengabdian para seniman yang tidak hanya berkarya, tetapi juga berperan dalam menanamkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda.
Menurutnya, perjalanan para seniman sering kali menyisakan jejak-jejak pengabdian yang tidak selalu terlihat, tetapi terus hidup melalui karya dan pengetahuan yang mereka bagikan.
“Dalam perjalanan panjang pengabdian, ada jejak-jejak sunyi yang tidak pernah benar-benar selesai dituliskan. Jejak itu hidup melalui karya, nilai, dan ketulusan berbagi pengetahuan,” ujarnya.
Ia menilai karya-karya yang dipamerkan dalam Tutur Ayu tidak hanya menghadirkan nilai estetika semata, tetapi juga menjadi ruang refleksi bagi masyarakat sebagai pewaris kebudayaan Bali.
Menurutnya, di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, nilai-nilai kebijaksanaan tradisional tetap memiliki relevansi dalam kehidupan modern.
“Di tengah arus perubahan, Tutur Ayu menjadi pengingat bahwa kebijaksanaan tidak lahir dari kebisingan, melainkan dari ketekunan merawat nilai,” jelasnya.
Pameran seni rupa Tutur Ayu tersebut menampilkan sebanyak 18 karya lukisan dari tiga perupa Bali yang juga dikenal sebagai guru seni, yakni Ketut Marra, I Wayan Santrayana, dan I Gede Budiartha.
Melalui karya-karya tersebut, para seniman berusaha menghadirkan refleksi kehidupan masyarakat Bali sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga warisan budaya yang menjadi identitas Pulau Dewata.
Pameran ini sekaligus menjadi ruang dialog antara seni, budaya, dan masyarakat untuk terus merawat nilai-nilai kebijaksanaan Bali di tengah perkembangan zaman.[*]
Dapatkan Update Terbaru!
Ikuti kami agar tidak ketinggalan info terbaru. GRATIS!!!











