BerandaDenpasarNiat dan Semangat Jadi Wartawan, Bekal Awal Menembus Dunia Jurnalistik

Niat dan Semangat Jadi Wartawan, Bekal Awal Menembus Dunia Jurnalistik

DENPASAR, MEDIAPELANGI.com — Niat dan semangat menjadi modal awal yang penting bagi seseorang yang ingin menekuni profesi wartawan. Namun, modal tersebut harus dibarengi kemauan untuk terus belajar, berlatih, dan mengasah keterampilan jurnalistik melalui pengalaman langsung di lapangan.

Pesan tersebut disampaikan Widminarko saat menjadi salah satu narasumber dalam Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian PWI di Gedung PWI Bali, Jalan Gatot Subroto, Denpasar, Kamis (20/8). Kegiatan bertema “Membangun Wartawan Profesional, Berintegritas, dan Berkomitmen terhadap Etika Jurnalistik melalui Penguatan Organisasi PWI” itu diikuti 102 wartawan se-Bali.

Pengalaman panjang menjadi wartawan sejak 1965 membuat Widminarko menyebut niat dan semangat sebagai bekal utama yang mengantarkannya bertahan di dunia jurnalistik selama puluhan tahun.

Widminarko menuturkan, dirinya mulai terjun ke dunia jurnalistik ketika masih menjadi mahasiswa Fakultas Sastra pada 1965. Saat itu, ia melamar bekerja di harian Suara Indonesia di Bali.

Namun, ketika pertama kali melamar, Widminarko mengaku belum memiliki bekal pengetahuan maupun keterampilan jurnalistik. Pada masa itu, pendidikan jurnalistik seperti jurusan jurnalistik maupun kursus jurnalistik belum mudah ditemui.

“Saya tidak punya bekal wawasan atau keterampilan menulis karya jurnalistik. Jadi masih kosong saya melamar itu,” kenangnya.

Ia kemudian menjalani proses belajar sambil bekerja. Menurut Widminarko, satu-satunya modal yang dimilikinya ketika itu adalah niat dan semangat untuk menjadi wartawan.

Bekal sederhana tersebut ternyata menjadi modal penting dalam perjalanan kariernya. Widminarko terus menekuni profesi jurnalistik hingga akhirnya pensiun dari Bali Post pada 2016.

Baca Juga:  Wabup Buleleng Ajak Pemuda Maknai Sumpah Pemuda Lewat Aksi Nyata

“Bekal saya adalah niat dan semangat, bekerja sambil belajar,” ujarnya.

Perjalanan Widminarko menunjukkan bahwa keterampilan jurnalistik tidak terbentuk secara instan. Kemampuan wartawan berkembang melalui proses panjang, terutama ketika pengetahuan yang dimiliki langsung dipraktikkan dalam pekerjaan sehari-hari.

Salah satu keterampilan dasar yang harus dikuasai wartawan adalah menggali fakta melalui wawancara dan observasi. Wartawan harus mampu menentukan informasi yang penting, menyusun pertanyaan yang tepat, serta menggali keterangan dari narasumber secara mendalam.

Keterampilan berikutnya adalah menulis berita secara jelas, ringkas, dan berdasarkan fakta. Informasi yang ditemukan di lapangan harus disusun secara sistematis agar mudah dipahami pembaca. Wartawan juga harus mampu membedakan fakta, pernyataan narasumber, opini, dan informasi yang belum terverifikasi.

Hal yang tidak kalah penting adalah verifikasi informasi. Wartawan tidak cukup hanya menerima informasi dari satu sumber. Data dan pernyataan yang diperoleh perlu diperiksa kembali agar berita yang dipublikasikan memiliki tingkat akurasi yang baik.

Proses belajar di lapangan juga akan membentuk kepekaan jurnalistik. Seorang wartawan dituntut mampu melihat nilai berita dari berbagai peristiwa di sekitarnya. Peristiwa yang tampak sederhana dapat menjadi berita penting ketika memiliki dampak dan kepentingan bagi masyarakat.

Di tengah perkembangan media digital, wartawan juga perlu menguasai keterampilan tambahan seperti fotografi, video, penggunaan media sosial, serta pemanfaatan teknologi dalam proses produksi dan distribusi berita. Namun, perkembangan teknologi tetap harus diimbangi dengan pemahaman terhadap etika jurnalistik.

Baca Juga:  KPK Hibahkan Tanah Rampasan 2.000 Meter Persegi ke Pemkab Tabanan

Widminarko menilai prinsip belajar sambil bekerja masih sangat relevan bagi generasi muda yang ingin menjadi wartawan. Pendidikan dan pelatihan jurnalistik dapat memberikan dasar pengetahuan, tetapi pengalaman menghadapi berbagai situasi di lapangan akan memperkaya kemampuan seorang wartawan.

Di lapangan, wartawan berhadapan dengan beragam karakter narasumber, kondisi yang tidak selalu terduga, serta tuntutan bekerja cepat. Situasi tersebut melatih wartawan untuk mengambil keputusan, menentukan fokus berita, menggali informasi, sekaligus tetap menjaga ketelitian.

Karena itu, wartawan muda perlu terbuka terhadap kritik dan koreksi dari wartawan yang lebih berpengalaman. Setiap tugas peliputan dapat menjadi ruang belajar untuk memperbaiki kemampuan menulis, wawancara, verifikasi, dan memahami persoalan yang diberitakan.

Menurut Widminarko, keterampilan jurnalistik memang penting. Namun, kemauan belajar, kerja keras, dan kesungguhan menjadi wartawan merupakan fondasi yang tidak kalah penting.

“Kalau Anda semua mau jadi wartawan, maka bekal pertama adalah niat dan semangat,” kata Widminarko.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa menjadi wartawan bukan sekadar mampu menulis berita. Profesi ini membutuhkan ketekunan mencari fakta, keberanian bertanya, ketelitian melakukan verifikasi, kemampuan memahami persoalan, serta komitmen menjaga etika jurnalistik.

Dengan niat dan semangat yang kuat, kemudian dibangun melalui proses belajar dan pengalaman di lapangan, wartawan muda diharapkan mampu berkembang menjadi jurnalis profesional, berintegritas, dan bertanggung jawab terhadap kepentingan publik.[ka]

 

BERITA LAINNYA

ARSIP BERITA

Silahkan pilih bulan untuk melihat Arsip Berita.

BERITA POPULER