TABANAN, MEDIA PELANGI.com – Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Tabanan yang beragama Hindu mengikuti kegiatan Dharma Wacana, Kamis (27/8/2026). Kegiatan pembinaan spiritual tersebut menjadi bagian dari upaya Lapas Tabanan memperkuat keimanan, membangun kesadaran diri, serta membentuk karakter positif sebagai bekal Warga Binaan kembali ke tengah masyarakat.
Dharma Wacana menghadirkan Penyuluh Agama Hindu dari Kementerian Agama Kabupaten Tabanan. Materi disampaikan secara interaktif dan reflektif sehingga peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman mengenai nilai-nilai keagamaan, tetapi juga diajak menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari.
Dalam kegiatan tersebut, Warga Binaan diajak memahami pentingnya menjadikan ajaran agama sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan. Nilai-nilai keagamaan juga dikaitkan dengan kemampuan mengendalikan diri serta menghadapi berbagai persoalan dan tantangan.
Pembinaan spiritual menjadi salah satu bagian dari pembinaan kepribadian di Lapas Tabanan. Melalui kegiatan keagamaan, Warga Binaan diberikan ruang untuk melakukan introspeksi sekaligus memperkuat nilai moral yang diharapkan dapat mendukung proses perubahan perilaku.
Kepala Lapas Tabanan Basuki Raharjo mengatakan, pembinaan kepribadian perlu menyentuh aspek moral dan spiritual. Menurutnya, pembinaan tidak hanya berorientasi pada kegiatan selama Warga Binaan berada di Lapas, tetapi juga menjadi bekal ketika nantinya kembali ke masyarakat.
“Dharma Wacana menjadi sarana memperkuat keimanan sekaligus membentuk karakter Warga Binaan. Kami berharap mereka semakin memahami nilai-nilai agama, memiliki pengendalian diri yang lebih baik, dan menjadikannya pedoman untuk menjalani kehidupan yang lebih positif,” ujar Basuki.
Penyuluh Agama Hindu senior Kementerian Agama Kabupaten Tabanan, Wayan Balik Tamba, dalam penyampaiannya mengajak Warga Binaan menjadikan ajaran agama sebagai pedoman ketika menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Menurutnya, kehidupan setiap orang tidak terlepas dari tantangan dan cobaan. Karena itu, nilai-nilai agama dapat menjadi pegangan untuk tetap memiliki arah dan keteguhan dalam menjalani proses kehidupan.
“Agama hadir sebagai penerang jalan bagi kita yang kehilangan arah. Dengan mengikuti ajaran-Nya, niscaya kita diberikan jalan untuk menghadapi setiap cobaan yang sedang dijalani,” jelas Wayan Balik Tamba.
Pesan tersebut diharapkan dapat memberikan penguatan bagi Warga Binaan untuk memperbaiki diri dan membangun pola pikir yang lebih positif.
Bagi salah seorang Warga Binaan, Nengah S., Dharma Wacana menjadi momentum untuk melakukan introspeksi terhadap perjalanan hidupnya.
Ia mengaku mulai menyadari kembali pentingnya mendekatkan diri kepada Tuhan setelah sebelumnya jarang menjalankan kegiatan keagamaan.
“Saya hilang arah dan jarang bersembahyang. Mungkin di sini tempat saya merenung dan mendekatkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi,” ungkap Nengah S.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pembinaan spiritual dapat menjadi ruang bagi Warga Binaan untuk melihat kembali perjalanan hidup sekaligus membangun kesadaran untuk melakukan perubahan.
Lapas Tabanan terus memberikan ruang bagi Warga Binaan untuk mengikuti berbagai kegiatan pembinaan kepribadian, termasuk pembinaan keagamaan. Kegiatan Dharma Wacana menjadi salah satu bentuk pembinaan yang diarahkan untuk memperkuat aspek moral, spiritual, dan karakter.
Melalui kegiatan tersebut, Warga Binaan diharapkan mampu menerapkan nilai-nilai yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari. Pengendalian diri, kesadaran terhadap kesalahan, serta kemauan untuk memperbaiki diri menjadi bagian penting dalam proses pembinaan.
Dengan pembinaan spiritual yang dilakukan secara berkelanjutan, Lapas Tabanan berharap Warga Binaan dapat menjalani proses perubahan dengan lebih baik dan memiliki bekal positif ketika kembali ke lingkungan keluarga serta masyarakat.[*rls]
Dapatkan Update Terbaru!
Ikuti kami agar tidak ketinggalan info terbaru. GRATIS!!!











