BerandaTabananFestival Tanah Lot 2026 Targetkan 10.000 Pengunjung per Hari, Perputaran Ekonomi Rp10...

Festival Tanah Lot 2026 Targetkan 10.000 Pengunjung per Hari, Perputaran Ekonomi Rp10 Miliar

Festival Tanah Lot VII menghadirkan Sunset in Paradise dan Ulam Carik, dengan target 9.000-10.000 wisatawan per hari selama tiga hari

TABANAN, MEDIAPELANGI.com — Festival Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 kembali digelar di Daerah Tujuan Wisata (DTW) Tanah Lot, Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, pada 28–30 Agustus 2026. Tahun ini, festival mengusung dua ikon utama, yakni Sunset in Paradise dan Ulam Carik.

Bukan sekadar menghadirkan pertunjukan seni dan kuliner tradisional, Festival Tanah Lot 2026 ditargetkan mampu meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat.

Manajemen DTW Tanah Lot menargetkan kunjungan selama festival mencapai 9.000 hingga 10.000 orang per hari. Angka tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan kunjungan harian di luar pelaksanaan festival yang berada pada kisaran 3.000 hingga 4.500 orang.

Manajer DTW Tanah Lot, I Wayan Sudiana, didampingi Bendesa Adat Beraban I Ketut Sujana, Senin (24/8/2026), mengatakan peningkatan kunjungan menjadi salah satu harapan utama dalam penyelenggaraan Festival Tanah Lot Art and Food Festival VII.

“Di luar festival, kunjungan harian mencapai 3.000-4.500 orang. Sehingga harapan kami saat festival target kunjungan bisa menyentuh di 9.000 hingga 10.000-an per hari,” ujar Sudiana.

Salah satu daya tarik utama Festival Tanah Lot 2026 adalah Sunset in Paradise. Konsep tersebut memadukan keindahan matahari terbenam di Tanah Lot dengan parade budaya berupa Gebogan dan Baleganjur.

Parade akan digelar pada waktu senja, bertepatan dengan momen matahari mulai tenggelam. Pengunjung tidak hanya mendapatkan pengalaman menikmati panorama sunset, tetapi juga menyaksikan kekayaan budaya masyarakat Desa Adat Beraban.

Menurut Sudiana, parade Gebogan dan Baleganjur merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari Festival Tanah Lot karena telah menjadi marwah sekaligus ikon festival sejak awal penyelenggaraannya.

Tahun ini, sebanyak 15 banjar adat di Desa Adat Beraban dilibatkan. Setiap hari akan ada lima banjar yang tampil dalam parade.

Bendesa Adat Beraban I Ketut Sujana mengatakan Gebogan yang ditampilkan tahun ini memiliki konsep khusus dengan nuansa Tridatu, yakni merah, putih dan hitam.

“Setiap hari, ada lima banjar yang tampil,” kata Sujana.

Selain Sunset in Paradise, Festival Tanah Lot 2026 juga mengangkat Ulam Carik sebagai ikon kuliner.

Ulam Carik merupakan kuliner tradisional yang menggunakan bahan-bahan dari kawasan persawahan. Konsep ini sekaligus memperkenalkan kekayaan pangan lokal Tabanan kepada wisatawan.

Sejumlah menu yang akan diperkenalkan antara lain lindung metunu atau belut panggang dengan sambal bejek, jukut gondo, kakul dengan bumbu suna cekuh, pesan testes atau pepes berbahan protein ikan air tawar, hingga kuah dengan daging kakul.

Tidak hanya makanan, festival juga menghadirkan minuman dan kudapan tradisional seperti rujak bir, jaje uli tape, rujak tibah atau mengkudu, serta loloh cem-cem.

Menariknya, bahan pangan yang digunakan berasal dari produsen lokal yang tersebar di Kabupaten Tabanan. Pada waktu tertentu, wisatawan dapat mencicipi kuliner tersebut secara gratis.

Besarnya target kunjungan wisatawan juga diharapkan memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat.

Manajemen DTW Tanah Lot menargetkan perputaran ekonomi mencapai Rp10 miliar selama tiga hari Festival Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026.

Baca Juga:  Bakesbangpol Tabanan Perkuat Data Ormas Lewat SIKEDAS

Target tersebut dinilai realistis karena festival berlangsung pada Agustus yang bertepatan dengan periode high season, khususnya kunjungan wisatawan mancanegara.

Aktivitas wisatawan selama festival diharapkan memberikan dampak berantai bagi pelaku UMKM, kuliner, transportasi, akomodasi, ekonomi kreatif serta berbagai sektor usaha masyarakat di sekitar Tanah Lot dan Tabanan.

Sekda Tabanan I Gede Susila yang mewakili Bupati Tabanan menegaskan bahwa festival harus terus dilaksanakan sebagai bagian dari strategi promosi destinasi wisata.

Menurutnya, meskipun Tanah Lot telah dikenal hingga tingkat internasional, promosi tetap diperlukan agar destinasi tersebut terus menjadi pilihan wisatawan.

“Festival ini tidak boleh berhenti, tidak harus digelar secara besar, namun tidak sederhana juga. Dalam tiap momen kita selalu perkenalkan apa saja yang ada, dan hal baru yang ditampilkan agar tidak terkesan template setiap tahun,” ujar Susila.

Ia menambahkan, Pemerintah Kabupaten Tabanan terus mendorong Tanah Lot agar tetap eksis sebagai salah satu destinasi unggulan sekaligus menjadi titik berkumpul masyarakat dan komunitas di Bali.

Dengan perpaduan sunset, parade budaya, kuliner tradisional, wisata dan ekonomi lokal, Festival Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 diharapkan tidak hanya meningkatkan jumlah wisatawan, tetapi juga memperkuat posisi Tabanan sebagai salah satu pusat kegiatan pariwisata dan ekonomi kreatif di Bali.[ka]

 

BERITA LAINNYA

ARSIP BERITA

Silahkan pilih bulan untuk melihat Arsip Berita.

BERITA POPULER