TABANAN, MEDIAPELANGI.com — Di tengah kepulan asap pembakaran genteng dan aroma tanah liat yang khas di Desa Pejaten, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, sebuah inovasi sederhana hadir untuk menjawab tantangan para perajin lokal.
Desa Pejaten selama ini dikenal sebagai salah satu sentra produksi genteng dan batu bata dengan merek “Pejaten”. Namun, semakin terbatasnya bahan baku tanah liat premium membuat para perajin harus mencari alternatif agar usaha kerajinan tetap bertahan.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah mengembangkan kerajinan terracotta, yakni produk berbahan tanah liat yang memiliki nilai estetika dan dapat dikembangkan menjadi berbagai bentuk seni.
Di tengah perubahan tersebut, muncul persoalan baru. Perajin dituntut menghadirkan motif yang beragam mengikuti perkembangan tren pasar, sementara penggunaan mesin cetak modern membutuhkan biaya besar dan dinilai kurang fleksibel.
Kondisi inilah yang kemudian mendorong I Made Danu S.Ag., M.Ag. untuk menghadirkan sebuah inovasi bernama Abu Teko (Alat Buat Terracotta).
I Made Danu merupakan akademisi dan pendidik yang mengajar di UNTAB serta sejumlah sekolah menengah. Kepeduliannya terhadap kondisi perajin di Desa Pejaten mendorongnya mencari solusi yang dapat diterapkan secara sederhana dan terjangkau.
Menurut Danu, persoalan utama perajin bukan hanya keterbatasan bahan baku, tetapi juga biaya peralatan produksi dan minimnya variasi alat untuk menghasilkan motif lokal.
“Tantangan perajin kita ada pada tingginya biaya peralatan cetak modern dan terbatasnya variasi motif lokal. Melalui pemanfaatan limbah di sekitar lingkungan, kita buat inovasi sederhana yang ramah kantong tapi kaya akan nilai seni,” ujar I Made Danu.
Dari persoalan tersebut lahirlah Abu Teko, seperangkat alat bantu produksi terracotta yang dirancang dengan memanfaatkan bahan-bahan limbah yang sudah tidak terpakai.
Abu Teko dirancang bukan hanya sebagai alat cetak. Inovasi tersebut mencakup berbagai alat bantu yang dapat digunakan perajin dalam proses produksi.
Perangkat tersebut meliputi alat untuk mencetak, memadatkan, memotong, mengukir, hingga menghaluskan bahan terracotta.
Pengembangan alat dilakukan melalui beberapa tahapan. Mulai dari menentukan desain, membuat perangkat, melakukan uji coba, hingga mengaplikasikannya secara langsung bersama para perajin.
Hasil pengembangan menunjukkan bahwa Abu Teko dapat digunakan secara teknis sekaligus memberikan efisiensi dari sisi ekonomi.
“Abu Teko ini dibuat agar fleksibel. Perajin bisa memunculkan wirausaha baru tanpa modal besar, karena alatnya sederhana, murah, dan mudah didapat,” tambah Danu.
Salah satu keunggulan Abu Teko adalah kemampuannya membantu perajin menghasilkan berbagai motif terracotta dengan detail yang lebih fleksibel.
Beberapa motif yang dapat dibuat antara lain Semar Dewi, Saraswati, Karang Boma, hingga Petani.
Keberagaman motif tersebut penting karena produk terracotta tidak hanya dituntut memiliki nilai fungsi, tetapi juga harus mampu mengikuti perkembangan selera pasar.
Di sisi lain, penggunaan alat sederhana memberikan ruang bagi perajin untuk mempertahankan karakter seni dan kearifan lokal Bali.
Dengan demikian, inovasi Abu Teko tidak hanya berbicara mengenai efisiensi produksi, tetapi juga mengenai keberlanjutan budaya.
Pemanfaatan limbah sebagai bahan dasar alat menjadi salah satu bagian menarik dari inovasi Abu Teko.
Bahan yang sebelumnya tidak terpakai dimanfaatkan kembali menjadi perangkat produksi yang memiliki nilai guna bagi perajin.
Konsep tersebut sekaligus membawa pesan bahwa inovasi tidak selalu harus menggunakan teknologi canggih dan mahal.
Dengan kreativitas, bahan sederhana di sekitar lingkungan dapat dikembangkan menjadi alat yang membantu meningkatkan produktivitas masyarakat.
Dedikasi I Made Danu dalam mengembangkan inovasi untuk membantu perajin Desa Pejaten akhirnya mendapat pengakuan dari Pemerintah Provinsi Bali.
Atas karya inovatifnya di bidang industri, I Made Danu diundang oleh Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Bali untuk menerima Anugerah Bali Swacitta Nugraha 2026.
Penghargaan tersebut diserahkan dalam rangkaian peringatan Hari Jadi ke-68 Provinsi Bali pada Jumat, 14 Agustus 2026, di Gedung Wiswa Sabha Utama, Kantor Gubernur Bali.
Penghargaan tersebut menjadi apresiasi terhadap inovasi yang dinilai memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus mendorong pengembangan industri berbasis potensi lokal.
Kehadiran Abu Teko memberikan harapan baru bagi keberlanjutan kerajinan terracotta di Desa Pejaten.
Dengan alat yang lebih sederhana dan terjangkau, perajin memiliki peluang untuk mengembangkan berbagai desain tanpa harus bergantung sepenuhnya pada peralatan modern dengan biaya tinggi.
Lebih jauh, inovasi tersebut membantu menjaga keberadaan motif dan karakter seni Bali dalam produk terracotta.
Hal ini menjadi penting di tengah perubahan industri kerajinan yang terus mengikuti perkembangan pasar.
Dari Pejaten untuk Masa Depan Kerajinan Bali
Kisah Abu Teko menunjukkan bahwa inovasi dapat lahir dari persoalan sederhana yang ditemukan di lingkungan masyarakat.
I Made Danu tidak hanya menciptakan alat produksi, tetapi juga menawarkan pendekatan baru dalam mengembangkan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.
Bagi perajin Pejaten, inovasi tersebut dapat menjadi salah satu jalan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus mempertahankan identitas kerajinan tanah liat yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Penghargaan Anugerah Bali Swacitta Nugraha 2026 pun menjadi bukti bahwa kreativitas yang berangkat dari kebutuhan masyarakat dapat memberikan dampak lebih luas.
Dari limbah yang sederhana, lahir alat yang membantu perajin. Dari tanah liat, lahir karya seni. Dan dari Desa Pejaten, muncul sebuah inovasi yang menunjukkan bahwa kearifan lokal dan kreativitas dapat menjadi kekuatan ekonomi masyarakat Bali.[*]
Dapatkan Update Terbaru!
Ikuti kami agar tidak ketinggalan info terbaru. GRATIS!!!











