BerandaTabananBawaslu Tabanan: Pemilihan BEM Jadi Miniatur Pemilu

Bawaslu Tabanan: Pemilihan BEM Jadi Miniatur Pemilu

TABANAN, MEDIAPELANGI.com — Demokrasi tidak hanya dipelajari melalui pemilu nasional. Lingkungan kampus pun dapat menjadi ruang pembelajaran demokrasi sejak dini, termasuk melalui pemilihan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).

Pesan tersebut disampaikan Ketua Bawaslu Kabupaten Tabanan, I Ketut Narta, saat menjadi narasumber kegiatan “Advaita Demokrasi” di STIKES Advaita Medika Tabanan, Senin (5/10/2026).

Kegiatan yang diikuti pengurus BEM periode 2025/2026 serta calon BEM periode 2026/2027 tersebut menjadi ruang edukasi bagi mahasiswa untuk memahami pentingnya demokrasi, integritas pemilihan dan pengawasan partisipatif dalam organisasi kampus.

Menurut Narta, pemilihan BEM memiliki banyak kemiripan dengan proses pemilu. Karena itu, setiap tahapan pemilihan mahasiswa perlu dikawal agar berjalan transparan, adil dan memberikan ruang yang setara kepada seluruh kandidat.

“Pemilihan BEM ini sudah menjadi miniatur pemilu. Dalam setiap tahapan harus ada pengawas,” ujar Narta.

Narta menekankan pengawasan tidak hanya diperlukan ketika pemungutan suara berlangsung. Tahapan sebelum pencoblosan juga menjadi bagian penting yang harus diperhatikan.

Pada masa kampanye, setiap kandidat harus mendapatkan kesempatan yang sama untuk menyampaikan visi dan misi kepada mahasiswa.

Kebebasan menyampaikan gagasan juga harus dijamin tanpa adanya intimidasi, tekanan maupun tindakan yang dapat mengganggu hak mahasiswa dalam menentukan pilihan.

Baca Juga:  DLH Tabanan Bagikan 100 Bag Komposter, Warga Rajin Pilah Sampah Dapat Apresiasi

Menurutnya, pengalaman menjalankan proses demokrasi di kampus akan menjadi bekal penting bagi mahasiswa ketika nantinya terlibat dalam kehidupan demokrasi di masyarakat.

Begitu pula saat pemungutan suara. Keberadaan petugas pelaksana dan pengawas di TPS dinilai penting untuk memastikan seluruh proses berjalan sesuai aturan dan mencegah potensi kecurangan.

“Pemilihan BEM juga merupakan pesta demokrasi di tingkat kampus. Karena itu, prosesnya harus dijalankan secara jujur dan bertanggung jawab,” tegasnya.

Selain berbicara mengenai teknis pengawasan pemilihan, Narta mengajak mahasiswa melihat demokrasi secara lebih luas.

Menurutnya, demokrasi tidak berhenti pada kegiatan memilih pemimpin. Mahasiswa juga perlu memahami pentingnya mengawasi proses, menyampaikan aspirasi dan memastikan keputusan organisasi diambil secara bertanggung jawab.

Semangat tersebut menjadi bagian dari penguatan pengawasan partisipatif yang selama ini terus didorong Bawaslu.

Mahasiswa dinilai memiliki posisi strategis karena berada di lingkungan pendidikan yang dapat melahirkan calon pemimpin masa depan.

Karena itu, calon pengurus BEM tidak hanya dituntut mampu memenangkan pemilihan, tetapi juga memiliki karakter kepemimpinan yang mampu memberikan manfaat bagi organisasi dan lingkungan kampus.

Dalam forum tersebut, Narta juga menyampaikan pesan “Bijak dalam Sikap, Integritas dalam Pengaruh, Berdampak dalam Bertindak.”

Baca Juga:  Lapas Tabanan Perkuat Pemahaman Hak dan Kewajiban Warga Binaan

Pesan tersebut menjadi pengingat bagi calon pemimpin mahasiswa agar tidak menjadikan jabatan organisasi hanya sebagai simbol atau posisi, tetapi sebagai ruang untuk menghadirkan perubahan positif.

Ia mendorong calon pengurus BEM menghadirkan inovasi, menggerakkan mahasiswa dalam kegiatan yang positif dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan STIKES Advaita Medika Tabanan.

Narta juga mengingatkan bahwa kepemimpinan bukan hanya soal kemampuan mengambil keputusan.

Seorang pemimpin harus memiliki kemampuan mendengar aspirasi anggota dan menjadikan musyawarah sebagai bagian dari proses pengambilan kebijakan.

“Setiap pemimpin harus bisa mendengarkan pendapat anggota BEM. Pengambilan keputusan harus dilakukan melalui rapat dan musyawarah agar menghasilkan keputusan yang adil,” ujarnya.

Melalui kegiatan “Advaita Demokrasi”, Bawaslu Tabanan berharap mahasiswa tidak hanya menjadi peserta dalam proses pemilihan BEM, tetapi juga memahami peran sebagai pengawas sekaligus bagian dari ekosistem demokrasi.

Dari ruang kampus, budaya demokrasi diharapkan tumbuh melalui proses yang jujur, adil, transparan dan berintegritas. Pengalaman tersebut menjadi bekal bagi mahasiswa untuk ikut menjaga kualitas demokrasi ketika kelak terjun lebih luas ke tengah masyarakat.[*rls]

 

BERITA LAINNYA

ARSIP BERITA

Silahkan pilih bulan untuk melihat Arsip Berita.

BERITA POPULER