TABANAN, MEDIAPELANGI.com – Warga dibuat terkejut Jumat (12/12) pagi ketika sebuah truk sampah milik DLH Tabanan melintas di Jalan Pahlawan tanpa pintu, hanya ditahan seutas tali lusuh yang berfungsi sebagai “pengaman darurat”.
Pemandangan ekstrem ini bukan hanya mengundang decak heran, tetapi juga memicu kekhawatiran serius: mengapa armada pengangkut sampah yang jelas tidak layak jalan masih dipaksa beroperasi di tengah lalu lintas kota.
Dari balik kabin terbuka itu, sang sopir tetap mengemudi seolah tak terjadi apa-apa sementara publik mempertanyakan keselamatan, standar operasional, dan kesiapan armada DLH yang ternyata seluruhnya bekerja tanpa cadangan. Truk tanpa pintu ini pun menjadi simbol gamblang betapa beratnya beban angkut sampah di Tabanan hingga armada rusak pun tetap turun ke jalan.
Fenomena ini memicu pertanyaan serius mengenai standar keselamatan armada pengangkut sampah di Kabupaten Tabanan. Sang sopir tampak tetap mengemudi dengan tenang meski berada di kabin tanpa pintu. Padahal, celah tanpa penutup itu jelas berisiko, terutama saat kendaraan melaju di jalur padat pusat kota Tabanan.
Kepala Dinas KLH Kabupaten Tabanan, I Gusti Putu Ekayana, tidak menampik bahwa kondisi truk tersebut memang tidak layak. Ia menjelaskan, pintu truk terlepas setelah mengangkut sampah dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Mandung.
Namun alih-alih menghentikan operasional dan segera memperbaiki armada, truk tetap diputuskan untuk melanjutkan satu putaran pengangkutan lagi di seputaran Kota Tabanan.
“Pintu truk itu terlepas saat mengangkut sampah ke TPA Mandung. Namun karena harus mengangkut sampah lagi satu kali di seputaran kota, sopir hanya memasang tali sebagai pengaman karena tidak ada pintu,” ungkap Ekayana saat dikonfirmasi.
Menurutnya, setelah tugas hari itu selesai, truk sampah tersebut langsung akan dibawa ke bengkel untuk perbaikan. Ia juga mengaku sudah dihubungi Bupati terkait kondisi armada tersebut. “Truk sudah kami tangani,” tegasnya.
Ekayana menyebut saat ini DLH Tabanan mengoperasikan 25 unit truk sampah, dan seluruhnya terpaksa harus turun bekerja setiap hari. Kondisi ini membuat tidak ada ruang bagi satu armada pun untuk beristirahat lama, bahkan ketika mengalami kerusakan. Jika satu truk berhenti, proses pengangkutan sampah di sejumlah titik akan terganggu.
Situasi ini mengindikasikan beban kerja armada pengangkut sampah di Kabupaten Tabanan jauh lebih besar dibanding kapasitas armada yang tersedia. Keterbatasan armada membuat truk dengan kondisi rusak sekalipun tetap dipaksakan beroperasi, karena tingginya volume sampah yang harus diangkut setiap hari.
Kasus truk tanpa pintu ini pun menjadi cermin perlunya evaluasi serius terkait kelayakan armada, keselamatan pengemudi, serta urgensi penambahan truk sampah baru agar pelayanan persampahan di Tabanan berjalan aman dan optimal.[ka]
Dapatkan Update Terbaru!
Ikuti kami agar tidak ketinggalan info terbaru. GRATIS!!!











