JEMBRANA, MEDIAPELANGI.com – Kemacetan panjang yang terjadi di jalur menuju Pelabuhan Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali, saat arus mudik Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah yang beririsan dengan perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1948 menjadi sorotan publik. Kondisi antrean kendaraan yang mengular hingga berjam-jam tersebut memicu berbagai keluhan dari masyarakat yang hendak menyeberang dari Bali menuju Jawa.
Menanggapi situasi tersebut, Gubernur Bali Wayan Koster menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada masyarakat atas ketidaknyamanan yang terjadi. Ia mengakui bahwa lonjakan volume kendaraan yang sangat tinggi di luar perkiraan menjadi salah satu penyebab utama kemacetan di jalur vital tersebut.
“Terjadinya kemacetan panjang ke arah Pelabuhan Gilimanuk akibat antrean penyeberangan, saya sebagai Gubernur Bali menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat,” ujar Koster.
Ia menegaskan, Pemerintah Provinsi Bali sebenarnya telah melakukan berbagai langkah antisipasi sejak jauh hari sebelum puncak arus mudik terjadi. Langkah tersebut dilakukan melalui koordinasi intensif bersama berbagai pihak terkait guna mengurai potensi kemacetan yang diprediksi akan meningkat menjelang hari raya besar keagamaan.
Menurutnya, rapat koordinasi (rakor) telah digelar bersama jajaran Polda Bali, Pangdam IX/Udayana, Dinas Perhubungan, serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Dalam rakor tersebut, berbagai skenario pengamanan dan pengaturan lalu lintas telah disusun untuk mengantisipasi lonjakan kendaraan.
Sebagai tindak lanjut dari rakor tersebut, Polda Bali juga telah mendirikan sejumlah posko pengamanan di sepanjang jalur strategis, khususnya di rute Gilimanuk–Mengwi. Personel gabungan disiagakan untuk mengatur arus lalu lintas serta memastikan kendaraan tetap bergerak meskipun dalam kondisi padat.
Di sisi lain, operator penyeberangan, yakni ASDP di bawah Kementerian Perhubungan RI, juga telah mengambil langkah dengan menambah jumlah kapal yang beroperasi di lintasan Gilimanuk–Ketapang. Penambahan armada ini bertujuan untuk mempercepat proses penyeberangan dan mengurangi waktu tunggu kendaraan di pelabuhan.
Namun demikian, tingginya animo masyarakat untuk mudik dalam waktu yang hampir bersamaan, terutama karena beririsan dengan momentum Nyepi di Bali, membuat beban lalu lintas meningkat secara signifikan. Banyak pemudik memilih keluar Bali sebelum Hari Raya Nyepi, sehingga terjadi penumpukan kendaraan dalam waktu yang relatif singkat.
“Kondisi ini memang cukup kompleks karena dua momentum besar terjadi berdekatan. Volume kendaraan sangat tinggi dan terpusat di satu titik, yakni Pelabuhan Gilimanuk,” jelasnya.
Koster juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah bekerja keras di lapangan, termasuk aparat keamanan, petugas perhubungan, serta operator penyeberangan yang tetap siaga mengatur arus kendaraan di tengah kondisi padat.
Selain itu, ia juga mengucapkan terima kasih kepada masyarakat atas berbagai kritik dan masukan yang disampaikan terkait kondisi kemacetan tersebut. Menurutnya, kritik tersebut akan menjadi bahan evaluasi penting bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan ke depan.
“Kritik dan saran dari masyarakat tentu sangat kami hargai dan akan menjadi bahan evaluasi untuk perbaikan ke depan agar pelayanan bisa lebih optimal,” tegasnya.
Ke depan, Pemerintah Provinsi Bali berkomitmen untuk memperkuat sistem manajemen arus lalu lintas, termasuk memperbaiki pola koordinasi lintas sektor serta meningkatkan kapasitas layanan penyeberangan. Evaluasi juga akan dilakukan terhadap skema pengaturan jadwal penyeberangan, distribusi kendaraan, serta kesiapan infrastruktur pendukung.
Dengan adanya evaluasi menyeluruh ini, diharapkan kejadian kemacetan panjang seperti yang terjadi saat mudik Nyepi dan Idul Fitri 2026 tidak kembali terulang, sehingga masyarakat dapat merasakan perjalanan yang lebih aman, nyaman, dan lancar.[*]
Dapatkan Update Terbaru!
Ikuti kami agar tidak ketinggalan info terbaru. GRATIS!!!











