TABANAN, MEDIAPELANGI.com — Festival Budaya dan Parade Gebogan dan Baleganjur yang digelar di kawasan DTW Ulun Danu Beratan dan The Blooms Garden, Bedugul, Tabanan, resmi berakhir pada Minggu, 9 Agustus 2026. Berlangsung selama 50 hari sejak 21 Juni 2026, festival ini tidak hanya menyuguhkan pertunjukan seni tradisional Bali, tetapi juga ikut mendongkrak kunjungan wisatawan ke kawasan wisata unggulan Bedugul.
Rangkaian kegiatan yang mengangkat kekayaan budaya Bali tersebut menghadirkan pementasan seni, tari tradisional, parade gebogan, beleganjur, serta berbagai fragmen tari. Ribuan seniman lokal turut ambil bagian sehingga kawasan wisata tidak hanya menawarkan panorama Danau Beratan, tetapi juga pengalaman budaya bagi wisatawan.
Dampak penyelenggaraan festival terlihat dari meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan. Pengelola mencatat kenaikan kunjungan baik ke The Blooms Garden maupun DTW Ulun Danu Beratan selama kegiatan berlangsung.
Humas dan Marketing DTW Ulun Danu Beratan, I Made Sukarata, mengatakan peningkatan kunjungan paling mencolok terjadi di The Blooms Garden.
Sebelum festival berlangsung, destinasi tersebut rata-rata menerima sekitar 300 hingga 400 wisatawan setiap hari. Namun, selama momentum Festival Budaya dan Parade Gebogan, jumlah kunjungan meningkat hingga berada pada kisaran 700 sampai 800 wisatawan per hari.
“Peningkatan kunjungan paling terlihat ke The Blooms Garden yang rata-rata 300-400 wisatawan per harinya meningkat menjadi 700-800 per harinya,” kata Sukarata seusai penutupan festival, Minggu (9/8/2026).
Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa keberadaan atraksi budaya dapat menjadi magnet tambahan bagi wisatawan. Pengunjung tidak hanya mencari keindahan alam, tetapi juga tertarik menyaksikan secara langsung tradisi dan kesenian Bali.
Kenaikan kunjungan juga terjadi di DTW Ulun Danu Beratan. Sukarata menyebut tingkat kunjungan meningkat sekitar 12 persen dibandingkan kondisi sebelumnya.
Dalam kondisi normal, jumlah wisatawan yang datang ke Ulun Danu Beratan berada di kisaran 2.000 orang per hari. Selama festival, angka tersebut meningkat menjadi sekitar 2.500 wisatawan setiap hari.
Bahkan pada waktu tertentu, jumlah kunjungan dapat mencapai sekitar 3.000 wisatawan dalam sehari.
Menurut Sukarata, antusiasme wisatawan sudah terlihat sejak sebelum mereka tiba di destinasi. Sejumlah travel agent maupun wisatawan reguler terlebih dahulu mencari informasi mengenai agenda Festival Budaya dan Parade Gebogan.
Hal tersebut menjadi indikasi bahwa kegiatan budaya memiliki peran dalam memengaruhi keputusan wisatawan untuk menentukan waktu kunjungan.
Meski festival telah resmi ditutup, aktivitas wisata di DTW Ulun Danu Beratan tetap berlangsung seperti biasa. Destinasi wisata yang berada di kawasan Bedugul tersebut tetap melayani wisatawan sesuai jadwal operasional normal.
Pengelola juga memastikan pementasan seni tetap digelar secara rutin pada waktu tertentu. Dengan demikian, wisatawan yang datang setelah festival selesai masih dapat menikmati suasana budaya Bali di kawasan Ulun Danu Beratan.
Berakhirnya festival justru menjadi momentum bagi pengelola untuk melakukan evaluasi. Beberapa bagian kegiatan akan dikaji untuk melihat potensi pengembangan pada penyelenggaraan berikutnya.
Sukarata menyebut evaluasi akan mencakup Parade Gebogan, beleganjur, hingga fragmen tari yang telah ditampilkan selama festival.
Salah satu gagasan yang mendapat perhatian adalah menjadikan proses pembuatan gebogan sebagai bagian dari pengalaman wisata.
Selama ini wisatawan umumnya melihat gebogan dalam kondisi sudah selesai dan siap digunakan dalam kegiatan adat maupun keagamaan. Ke depan, pengelola melihat peluang untuk memperlihatkan proses pembuatannya sejak awal.
Wisatawan dapat menyaksikan bagaimana bahan disusun, dihias, hingga menjadi gebogan yang memiliki bentuk khas dan sarat makna.
Konsep tersebut dinilai mampu memberikan pengalaman wisata yang lebih mendalam. Wisatawan bukan hanya melihat hasil akhir sebuah tradisi, tetapi juga memahami proses dan nilai budaya yang berada di baliknya.
“Perlu adanya evaluasi dari pembuatan gebogan serta tradisi menyertainya,” ujar Sukarata.
Menurutnya, konsep tersebut dapat dikembangkan agar wisatawan bisa melihat bahkan terlibat dalam proses pembuatan gebogan dari tahap awal sampai menjadi bagian dari atraksi budaya.

Festival Budaya dan Parade Gebogan di Ulun Danu Beratan dan The Blooms Garden memberikan gambaran bahwa seni dan tradisi lokal memiliki potensi besar untuk memperkuat sektor pariwisata.
Kenaikan jumlah wisatawan selama festival sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar. Kehadiran wisatawan dapat memberikan dampak berantai bagi pelaku kuliner, UMKM, transportasi, jasa wisata, hingga sektor akomodasi.
Bagi Tabanan, perpaduan antara panorama alam Bedugul dan kekayaan budaya Bali menjadi modal penting untuk memperkuat daya tarik destinasi.
Karena itu, evaluasi festival tidak sekadar berkaitan dengan teknis penyelenggaraan. Pengembangan atraksi juga perlu diarahkan agar tetap menjaga keaslian tradisi sekaligus mampu memenuhi kebutuhan wisatawan modern yang menginginkan pengalaman otentik.
Festival selama 50 hari memang telah berakhir. Namun, meningkatnya kunjungan wisatawan menjadi catatan penting bahwa budaya Bali memiliki kekuatan besar ketika dikemas secara tepat tanpa kehilangan akar tradisinya.
Dengan pengembangan Parade Gebogan, beleganjur, tari, serta atraksi pembuatan gebogan, kawasan Ulun Danu Beratan berpeluang semakin kuat sebagai destinasi wisata budaya dan alam yang menawarkan pengalaman berbeda di jantung Bedugul.[ka]
Dapatkan Update Terbaru!
Ikuti kami agar tidak ketinggalan info terbaru. GRATIS!!!











