TABANAN, MEDIAPELANGI.com — Jaje uli yang selama ini lekat dengan hidangan tradisional masyarakat Bali disulap menjadi karya seni bernilai budaya. Kreativitas PKK Banjar Adat Batusesa, Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, berhasil mengantarkan gebogan berbahan jaje uli meraih juara pertama Festival Parade Gebogan yang diselenggarakan DTW Ulun Danu Beratan dan The Blooms Garden 2026.
Kemenangan tersebut bukan sekadar soal keindahan bentuk. Gebogan karya perempuan Banjar Adat Batusesa membawa cerita tentang identitas Bali dengan mengangkat salah satu ikon utama kawasan wisata Ulun Danu Beratan, yakni meru Pura Ulun Danu.
Karya tersebut memiliki tinggi sekitar 67 sentimeter. Menariknya, bagian inti gebogan dibuat menggunakan jaje uli yang dibentuk sedemikian rupa hingga menyerupai bangunan meru.
Perwakilan PKK Banjar Adat Batusesa, Ni Luh Putu Prasiani, mengatakan pemilihan meru sebagai tema dilakukan karena bangunan tersebut memiliki kedudukan penting bagi Pura Ulun Danu Beratan.
“Meru merupakan salah satu ikon sekaligus taksu bagi Pura Ulun Danu Beratan. Sehingga kami mengangkat tema itu,” ujar Prasiani, Minggu (9/8/2026).
Gebogan selama ini dikenal sebagai bagian dari tradisi masyarakat Bali. Susunan hasil bumi, buah, jajanan, maupun berbagai bahan lainnya menjadi bagian dari persembahan yang sarat nilai budaya.
Namun, Festival Parade Gebogan di DTW Ulun Danu Beratan memberikan ruang lebih luas bagi masyarakat untuk mengembangkan kreativitas tanpa meninggalkan akar tradisi.
PKK Banjar Adat Batusesa menangkap peluang tersebut dengan menjadikan jaje uli sebagai material utama. Bahan yang biasanya hadir dalam berbagai perayaan dan hari raya Bali itu diolah menjadi bentuk visual yang tidak biasa.
Proses tersebut tentu membutuhkan ketelitian. Jaje uli harus dibentuk, disusun, dan dirangkai agar mampu menghasilkan struktur yang menyerupai meru sekaligus tetap terlihat menarik sebagai sebuah karya gebogan.
Kreativitas itu pula yang membuat karya Batusesa memiliki nilai pembeda dibandingkan gebogan lainnya.
Di balik bentuk artistiknya, penggunaan jaje uli juga membawa pesan mengenai peran perempuan Bali dalam menjaga tradisi.
Menurut Prasiani, jaje uli merupakan makanan khas yang selalu hadir dalam berbagai momentum hari raya masyarakat Bali. Proses pembuatannya juga banyak dilakukan oleh perempuan Bali sehingga memiliki hubungan erat dengan kehidupan sosial dan budaya masyarakat.
“Jaje uli itu khas setiap hari raya di Bali dan dikerjakan oleh perempuan Bali. Selain itu, jaje uli tidak bisa dipisahkan dari upacara tradisional Bali,” katanya.
Karena itu, gebogan berbahan jaje uli tidak hanya menjadi karya perlombaan. Kreasi tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana pengetahuan tradisional yang diwariskan antargenerasi dapat dikembangkan menjadi karya kreatif.
Perempuan Bali tidak hanya menjadi pelaksana tradisi, tetapi juga memiliki ruang untuk berinovasi dan memperkenalkan budaya melalui karya yang lebih mudah diterima masyarakat luas.
Kreativitas PKK Banjar Adat Batusesa kembali terlihat ketika mereka tampil di The Blooms Garden. Jika di DTW Ulun Danu Beratan mereka mengangkat bentuk meru, pada kesempatan tersebut inspirasi datang dari lingkungan destinasi wisata The Blooms Garden.
Masih menggunakan jaje uli sebagai bahan utama, mereka membuat gebogan yang terinspirasi dari burung merak.
Burung merak tersebut dipilih karena menjadi salah satu daya tarik visual sekaligus spot yang banyak diminati pengunjung untuk mengabadikan momen di The Blooms Garden.
Konsep ini memperlihatkan bahwa gebogan dapat menjadi media untuk menghubungkan tradisi dengan perkembangan pariwisata. Ikon sebuah destinasi diterjemahkan ke dalam karya budaya yang dibuat masyarakat setempat.
Dengan pendekatan tersebut, wisatawan tidak hanya melihat gebogan sebagai bagian dari tradisi Bali, tetapi juga dapat mengenali karakter destinasi melalui karya yang ditampilkan.
Festival Parade Gebogan yang digelar DTW Ulun Danu Beratan memberikan ruang bagi masyarakat untuk menampilkan kreativitas sekaligus memperkuat daya tarik wisata budaya di kawasan Bedugul.
Karya PKK Banjar Adat Batusesa menjadi salah satu contoh bahwa tradisi bisa dikembangkan tanpa harus kehilangan identitasnya. Jaje uli tetap dipertahankan sebagai bahan utama, sementara bentuk dan konsepnya dibuat lebih kreatif.
Pola seperti ini berpotensi menjadi bagian dari pengembangan wisata berbasis budaya. Wisatawan yang datang ke Bedugul bukan hanya menikmati pemandangan alam, tetapi juga memperoleh pengalaman melihat bagaimana masyarakat mengolah tradisi menjadi sebuah karya.
Ke depan, konsep serupa dapat dikembangkan melalui atraksi pembuatan gebogan secara langsung. Wisatawan bahkan dapat diperkenalkan dengan proses pembuatan sejak pemilihan bahan, pembentukan, penyusunan, hingga gebogan siap dipamerkan.
Dengan begitu, tradisi tidak hanya ditampilkan sebagai hasil akhir, tetapi juga menjadi pengalaman yang dapat dipelajari.
Prestasi PKK Banjar Adat Batusesa dalam Festival Parade Gebogan akhirnya bukan hanya tentang sebuah trofi juara pertama. Ada pesan lebih besar yang dibawa melalui karya tersebut: tradisi Bali dapat terus hidup ketika generasi penerus berani memberikan sentuhan kreativitas.
Jaje uli yang sederhana berhasil diubah menjadi representasi meru Pura Ulun Danu Beratan. Di tempat lain, bahan yang sama kembali diterjemahkan menjadi burung merak yang merepresentasikan The Blooms Garden.
Kreativitas semacam inilah yang membuat budaya memiliki ruang untuk terus berkembang. Tradisi tetap menjadi akar, sementara inovasi menjadi cara agar nilai-nilai tersebut dapat terus dikenal oleh generasi berikutnya dan dinikmati wisatawan.
Bagi Banjar Adat Batusesa, kemenangan ini menjadi kebanggaan sekaligus pembuktian bahwa karya berbasis tradisi lokal mampu tampil menonjol ketika dipadukan dengan ide kreatif.[ka]
Dapatkan Update Terbaru!
Ikuti kami agar tidak ketinggalan info terbaru. GRATIS!!!











