BerandaTabananKrisis Tenaga Manyi Ancam Panen Padi Bali di Jatiluwih

Krisis Tenaga Manyi Ancam Panen Padi Bali di Jatiluwih

"Petani Jatiluwih Datangkan Buruh Panen dari Luar Desa"

TABANAN, MEDIAPELANGI.com – Hamparan sawah terasering Jatiluwih yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO tidak hanya menyimpan keindahan alam dan sistem Subak yang mendunia. Di balik panorama hijau yang memukau wisatawan, para petani kini menghadapi tantangan serius, yakni semakin langkanya tenaga manyi atau buruh panen padi tradisional.

Fenomena ini terjadi hampir setiap musim panen. Minimnya minat generasi muda untuk menekuni pekerjaan sebagai manyi, ditambah bertambahnya usia para pekerja senior, membuat petani kesulitan mencari tenaga panen. Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh petani di kawasan Subak Jatiluwih, khususnya Tempek Gunung Sari, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan.

Untuk mengatasi persoalan itu, petani terpaksa mendatangkan tenaga manyi dari luar desa. Buruh panen yang selama ini menjadi andalan berasal dari sejumlah wilayah seperti Bugbugan, Munduk Lumbang, Babahan, hingga Wangaya Betan.

Petani asal Banjar Gunung Sari, Desa Jatiluwih, Wayan Semarajaya, mengatakan keberadaan tenaga manyi dari daerah tersebut sangat membantu proses panen yang masih dilakukan secara tradisional.

“Setiap musim panen kami biasanya mendatangkan tenaga manyi dari Banjar Bugbugan, Munduk Lumbang, Babahan, dan Wangaya Betan. Sekarang semakin sedikit generasi muda yang mau melanjutkan pekerjaan ini sehingga tenaga panen semakin sulit dicari,” ujar Wayan Semarajaya saat ditemui di kediamannya, Sabtu (20/6/2026).

Menurutnya, kondisi di Jatiluwih berbeda dengan sebagian daerah lain yang sudah menggunakan mesin pemanen modern atau combine harvester. Sebagian besar petani di kawasan tersebut masih menanam padi lokal Bali yang memiliki karakter batang lebih tinggi dibandingkan varietas padi hibrida.

Baca Juga:  Baturiti Festival 2026 Dibuka, Budaya dan Potensi Daerah Jadi Kekuatan Ekonomi

Karena postur tanaman yang lebih tinggi dan kondisi lahan terasering yang berundak-undak, penggunaan mesin panen modern tidak dapat dilakukan secara maksimal. Akibatnya, proses panen masih sangat bergantung pada tenaga manusia.

“Padi Bali batangnya lebih tinggi dibandingkan padi hibrida. Selain itu kondisi sawah di Jatiluwih bertingkat sehingga sulit menggunakan mesin panen. Karena itu kami tetap mengandalkan tenaga manyi,” jelasnya.

Ketergantungan terhadap tenaga panen tradisional membuat petani harus mengatur jadwal panen jauh-jauh hari. Jika terlambat mendapatkan tenaga manyi, padi yang sudah siap panen berisiko mengalami kerusakan akibat hujan atau serangan hama.

Dalam satu hamparan sawah seluas sekitar 50 are, proses panen biasanya dikerjakan oleh empat orang tenaga manyi. Dengan kondisi cuaca yang mendukung, pekerjaan tersebut dapat diselesaikan dalam waktu sekitar lima hari.

“Kalau luasnya sekitar 50 are biasanya empat orang bisa menyelesaikan panen dalam lima hari. Tetapi itu juga tergantung cuaca. Kalau hujan terus tentu waktunya lebih lama,” katanya.

Dari sisi biaya, petani harus mengeluarkan ongkos panen yang bervariasi. Sistem pembayaran umumnya dihitung berdasarkan hasil gabah yang diperoleh. Tarif tenaga manyi saat ini berkisar antara Rp1.000 hingga Rp1.200 per kilogram gabah.

Besaran upah tersebut dipengaruhi oleh lokasi sawah dan tingkat kesulitan medan yang harus ditempuh para pekerja.

“Biaya panen sekarang sekitar Rp1.000 sampai Rp1.200 per kilogram. Kalau lokasinya jauh dan medannya sulit biasanya lebih tinggi,” tambahnya.

Baca Juga:  PWI Tabanan Bongkar Tantangan Humas OPD: Bukan Sekadar Tukang Foto

Wayan Semarajaya menilai persoalan regenerasi tenaga manyi perlu menjadi perhatian bersama. Menurutnya, pekerjaan sebagai buruh panen kini semakin kurang diminati karena generasi muda lebih memilih bekerja di sektor pariwisata atau pekerjaan lain yang dianggap lebih menjanjikan.

Padahal keberadaan tenaga manyi memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan pertanian tradisional Bali, terutama di kawasan Subak Jatiluwih yang menjadi ikon pertanian dunia.

Di Jatiluwih, pola tanam padi umumnya dilakukan satu kali dalam setahun. Musim tanam dimulai sekitar Januari dan panen berlangsung beberapa bulan kemudian mengikuti sistem pengelolaan air Subak yang telah diwariskan turun-temurun.

Meski menghadapi tantangan keterbatasan tenaga kerja, para petani tetap berupaya mempertahankan budidaya padi lokal Bali sebagai bagian dari pelestarian budaya dan identitas pertanian tradisional Pulau Dewata. Bagi mereka, menjaga sawah Jatiluwih bukan hanya soal menghasilkan beras, tetapi juga menjaga warisan leluhur yang telah menjadi kebanggaan Bali di mata dunia.

Selain menghadapi persoalan tenaga panen, petani juga dihadapkan pada tantangan menjaga keberlanjutan pertanian tradisional Bali di tengah pesatnya perkembangan sektor lain. Para petani berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah melalui program regenerasi petani dan pelatihan tenaga manyi muda. Langkah tersebut dinilai penting agar sistem pertanian berbasis Subak tetap lestari, sekaligus memastikan proses panen padi lokal Bali dapat terus berjalan secara berkelanjutan di masa mendatang.[ka]

 

BERITA LAINNYA

ARSIP BERITA

Silahkan pilih bulan untuk melihat Arsip Berita.

BERITA POPULER