BerandaTabananGebogan Jaje Uli Batusesa Juara I, Raih Piala Bergilir dan Hadiah Rp20...

Gebogan Jaje Uli Batusesa Juara I, Raih Piala Bergilir dan Hadiah Rp20 Juta

TABANAN, MEDIAPELANGI.com — Bukan sekadar tumpukan jajanan tradisional, gebogan jaje uli karya PKK Banjar Adat Batusesa, Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Tabanan, berhasil menjadi Juara I Festival Parade Gebogan di kawasan DTW Ulun Danu Beratan dan The Blooms Garden. Karya tersebut sekaligus membawa pulang piala bergilir dan hadiah uang tunai Rp20 juta.

Keberhasilan itu menjadi menarik karena gebogan yang ditampilkan tidak dibuat dari bahan pangan secara biasa. Jaje uli justru diolah menjadi bagian utama sebuah karya seni yang mengangkat meru Pura Ulun Danu Beratan sebagai sumber inspirasi.

Gebogan tersebut memiliki tinggi sekitar 67 sentimeter. Bentuk meru dibuat dengan detail dari jaje uli yang disusun secara kreatif sehingga menghasilkan tampilan yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga membawa pesan tentang kedekatan tradisi masyarakat dengan kawasan Ulun Danu Beratan.

Perwakilan PKK Banjar Adat Batusesa, Ni Luh Putu Prasiani, mengatakan pemilihan meru bukan dilakukan tanpa alasan. Bagi kelompoknya, meru merupakan salah satu ikon sekaligus taksu Pura Ulun Danu Beratan.

“Meru merupakan salah satu ikon sekaligus taksu bagi Pura Ulun Danu Beratan. Sehingga kami mengangkat tema itu,” ujar Prasiani, Minggu (9/8/2026).

Konsep tersebut membuat gebogan Batusesa memiliki cerita tersendiri. Mereka tidak hanya mengejar bentuk yang indah, tetapi berusaha memasukkan identitas destinasi ke dalam karya tradisional.

Pilihan menggunakan jaje uli juga menjadi bagian penting dari konsep tersebut. Jajanan tradisional Bali ini identik dengan hari raya dan berbagai kegiatan adat. Pembuatannya juga selama ini banyak melibatkan perempuan Bali, sehingga karya tersebut sekaligus memperlihatkan peran perempuan dalam menjaga tradisi.

Bagi PKK Banjar Adat Batusesa, jaje uli bukan hanya bahan makanan. Ketika diolah dengan kreativitas, jajanan tersebut dapat berubah menjadi media untuk menyampaikan cerita budaya.

Di balik gebogan yang berhasil menjadi juara, terdapat proses pengerjaan yang membutuhkan ketelitian dan kekompakan. Anggota PKK menghabiskan waktu kurang lebih satu minggu untuk menyiapkan dan menyusun karya tersebut.

Anggota yang terlibat didominasi perempuan berusia sekitar 20 hingga 38 tahun. Mereka bekerja bersama mulai dari menyiapkan bahan, membentuk jaje uli, menyusun bagian gebogan, hingga memastikan setiap detail tampil sesuai konsep.

Kekompakan menjadi salah satu kekuatan utama dalam proses tersebut. Sebab, membuat gebogan dengan bentuk khusus membutuhkan kesabaran agar susunan tetap rapi sekaligus mampu mempertahankan bentuk yang sudah dirancang.

Prasiani mengatakan jaje uli memiliki posisi khusus dalam kehidupan masyarakat Bali.

“Jaje uli itu khas setiap hari raya di Bali dan dikerjakan oleh perempuan Bali. Selain itu, jaje uli tidak bisa dipisahkan dari upacara tradisional Bali,” ungkapnya.

Kreativitas PKK Banjar Adat Batusesa tidak berhenti pada ikon Pura Ulun Danu Beratan. Ketika tampil di The Blooms Garden, mereka kembali menerjemahkan karakter destinasi tersebut ke dalam karya gebogan.

Kali ini, konsep yang diangkat terinspirasi dari burung merak, yang juga menjadi salah satu ikon dan spot favorit wisatawan untuk mengabadikan momen di The Blooms Garden.

Menariknya, jaje uli tetap menjadi bahan utama. Perbedaan konsep tersebut memperlihatkan bagaimana satu bahan tradisional dapat dikembangkan menjadi karya dengan karakter berbeda sesuai lokasi dan tema yang diangkat.

Festival akhirnya menjadi ruang pertemuan antara tradisi, kreativitas perempuan Bali dan pariwisata. Wisatawan tidak hanya menyaksikan hasil akhir gebogan, tetapi juga dapat melihat bagaimana unsur budaya lokal diterjemahkan menjadi atraksi yang memiliki daya tarik visual.

Baca Juga:  Rumah di Gang Jambu Tabanan Terbakar, Rugi Rp250 Juta

Kemenangan PKK Banjar Adat Batusesa tidak berhenti pada piala dan hadiah. Mereka kini menghadapi tantangan untuk mempertahankan prestasi pada festival berikutnya.

Prasiani mengakui mempertahankan gelar juara akan lebih sulit karena peserta lain tentu akan menyiapkan ide baru.

“PR kami lebih besar untuk tahun depan. Tetapi, kami sudah menyiapkan konsep baru,” katanya.

Hadiah Rp20 juta yang diterima sebagai Juara I akan dialokasikan untuk kegiatan PKK setempat. Sementara piala bergilir menjadi simbol keberhasilan sekaligus motivasi agar kreativitas terus dikembangkan.

 

Banjar Adat Candikuning menerima piala dan hadiah Rp20 juta sebagai Juara I Lomba Baleganjur di Festival Budaya Tabanan 2026.
Banjar Adat Candikuning menerima piala bergilir dan hadiah uang tunai Rp20 juta sebagai Juara I Lomba Baleganjur dalam rangkaian Festival Budaya dan Parade Gebogan 2026 di kawasan DTW Ulun Danu Beratan dan The Blooms Garden, Bedugul, Tabanan.

Selain Festival Parade Gebogan, rangkaian kegiatan juga menghadirkan Lomba Baleganjur. Pada penyelenggaraan tahun 2026, Banjar Adat Candikuning berhasil meraih Juara I.

Atas prestasi tersebut, Banjar Adat Candikuning berhak membawa pulang piala bergilir dan hadiah uang tunai Rp20 juta.

Dua kemenangan tersebut memperlihatkan bahwa kreativitas masyarakat Bedugul tidak hanya hidup dalam bentuk seni visual, tetapi juga musik tradisional.

Festival Budaya dan Parade Gebogan di kawasan DTW Ulun Danu Beratan serta The Blooms Garden pun meninggalkan pesan bahwa budaya lokal dapat berjalan beriringan dengan pariwisata.

Gebogan jaje uli Batusesa menjadi contoh bagaimana bahan sederhana yang lekat dengan tradisi mampu diubah menjadi karya bernilai seni, sekaligus mengangkat identitas destinasi. Di tangan perempuan Bali, tradisi tidak berhenti sebagai warisan masa lalu, tetapi terus diberi ruang untuk tumbuh dan tampil dalam bentuk yang lebih kreatif.[ka]

 

BERITA LAINNYA

ARSIP BERITA

Silahkan pilih bulan untuk melihat Arsip Berita.

BERITA POPULER