TABANAN, MEDIAPELANGI.com – Seiring dengan pencabutan seng dan plastik hitam yang sempat menutup area persawahan, Pengelola Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih menyatakan kesiapan untuk kembali menggencarkan promosi pariwisata kawasan yang telah berstatus Warisan Budaya Dunia (WBD) UNESCO. Promosi akan difokuskan setelah bentang alam sawah terasering dipastikan bersih dan kembali menampilkan keaslian lanskap yang selama ini menjadi daya tarik utama Jatiluwih.
Manajer DTW Jatiluwih, I Ketut Purna yang akrab disapa Jhon, menyebut pencabutan seng menjadi kabar baik bagi sektor pariwisata. Menurutnya, kondisi tersebut membuka ruang bagi pemulihan citra Jatiluwih di mata wisatawan, khususnya wisatawan mancanegara.
“Ini menjadi kabar baik sehingga kami bisa mempromosikan kembali Jatiluwih kepada calon wisatawan, terutama wisatawan mancanegara,” ujar Jhon saat dikonfirmasi, Selasa (6/1/2026).
Jhon mengakui, pemasangan seng dan plastik hitam di kawasan persawahan sebelumnya berdampak cukup signifikan terhadap citra pariwisata Jatiluwih. Kawasan yang dikenal dunia karena keindahan sawah terasering dan sistem subak itu sempat dinilai tidak lagi merepresentasikan nilai keaslian lanskap budaya Bali.
“Status Jatiluwih sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO harus dijaga bersama. Kebersihan dan keaslian kawasan menjadi daya tarik utama bagi wisatawan,” tegasnya.
Pemerintah Kabupaten Tabanan pun menyadari bahwa polemik seng dan plastik hitam tidak semata persoalan penataan kawasan, tetapi juga menyentuh langsung mata pencaharian masyarakat setempat.
Oleh karena itu, Bupati Tabanan berkomitmen mengupayakan solusi terbaik yang mampu meminimalisir dampak terhadap sektor pariwisata tanpa mengabaikan kepentingan ekonomi warga Jatiluwih.
Langkah moratorium yang diambil pemerintah daerah diharapkan menjadi ruang jeda bagi seluruh pihak untuk menyusun konsep penataan kawasan yang lebih berkelanjutan. Penataan tersebut diharapkan selaras dengan nilai-nilai konservasi, adat, dan pariwisata. Pemerintah daerah juga memastikan akan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari desa adat, pengelola DTW, hingga pelaku usaha lokal, dalam merumuskan kebijakan lanjutan.
Pencabutan seng secara simbolis oleh Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya bersama para petani Jatiluwih pada Senin (5/1/2026) menjadi titik awal pemulihan destinasi WBD UNESCO tersebut. Momen ini sekaligus menandai komitmen bersama antara pemerintah, petani, dan pengelola pariwisata untuk mengembalikan Jatiluwih sebagai destinasi unggulan Bali yang lestari dan berdaya saing.
I Ketut ‘Jhon’ Purna, menjelaskan bahwa langkah awal pemulihan difokuskan pada penyampaian informasi yang utuh kepada seluruh pemangku kepentingan pariwisata. Informasi mengenai kondisi Jatiluwih yang kini kembali aman dan kondusif akan diteruskan kepada pelaku industri pariwisata, mulai dari ASITA Bali hingga berbagai paguyuban pariwisata.
“Kami ingin memastikan bahwa tidak ada lagi keributan di Jatiluwih. Situasi sudah kondusif dan fokus kami sekarang adalah pemulihan kepercayaan wisatawan,” katanya.
Ia tidak menampik bahwa polemik yang terjadi sebelumnya berdampak signifikan terhadap kunjungan wisatawan. Bahkan, jumlah kunjungan sempat anjlok hingga 80 persen. Beberapa agen perjalanan dari Jerman dan Prancis dilaporkan menghentikan sementara penjualan paket wisata ke Jatiluwih karena kekhawatiran terhadap faktor keamanan dan stabilitas kawasan.
Untuk mengembalikan minat pasar internasional, Jhon menekankan pentingnya menjaga stabilitas kawasan serta membangun komunikasi yang harmonis antarseluruh elemen, mulai dari petani, manajemen operasional, hingga badan pengelola.
“Kami berharap jika ada persoalan ke depan, bisa diselesaikan dengan duduk bersama. Kami siap menjembatani agar tidak lagi berdampak pada citra pariwisata Jatiluwih,” ujarnya.
Selain stabilitas sosial, tantangan pemulihan juga terletak pada sistem penjualan paket wisata internasional yang disusun jauh hari. Menurut Jhon, agen perjalanan Eropa umumnya menyusun paket wisata enam bulan sebelum keberangkatan. Bahkan, destinasi dan harga sering ditetapkan sejak April untuk periode enam bulan berikutnya.
“Kalau sampai Jatiluwih dicoret dari paket sekarang, dampaknya bisa terasa sampai satu tahun. Karena itu pemulihan harus dilakukan secepat mungkin,” tegasnya.
Dalam kondisi normal, kunjungan wisatawan mancanegara ke Jatiluwih berada di kisaran 800 hingga 1.000 orang per hari. Pasca polemik, angka tersebut sempat merosot hingga sekitar 120 orang per hari.
Namun seiring membaiknya situasi, kunjungan wisatawan kini mulai berangsur meningkat dan telah mencapai sekitar 50 persen dari kondisi normal. Pemulihan ini diharapkan terus berlanjut seiring sinergi semua pihak dalam menjaga kelestarian dan keberlanjutan kawasan warisan dunia tersebut.[ka]
Dapatkan Update Terbaru!
Ikuti kami agar tidak ketinggalan info terbaru. GRATIS!!!











