BerandaTabananSeng Dicabut, Jatiluwih Bersiap Bangkit: Petani Lega, Promosi Wisata Digenjot

Seng Dicabut, Jatiluwih Bersiap Bangkit: Petani Lega, Promosi Wisata Digenjot

TABANAN, MEDIAPELANGI.com – Polemik pemasangan seng dan plastik hitam di kawasan sawah Jatiluwih perlahan menemui titik terang. Setelah dilakukan penertiban dan pencabutan seng di area persawahan, Pemerintah Kabupaten Tabanan mengambil langkah moratorium sebagai solusi sementara guna menjaga keseimbangan antara kelestarian kawasan warisan budaya dunia dan keberlangsungan ekonomi masyarakat setempat.

Salah seorang petani sekaligus pemilik usaha yang terdampak penertiban, Nengah Darmika Yasa, menyambut positif kebijakan tersebut. Ia mengaku lega karena masih diberikan kesempatan untuk kembali berusaha demi menopang perekonomian keluarga.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Tabanan karena sudah memberi lampu hijau untuk tetap berjualan dan menambah penghasilan keluarga,” ujar Darmika Yasa, Senin (5/1/2026).

Darmika menegaskan kesiapannya mengikuti seluruh aturan yang akan ditetapkan pemerintah, termasuk ketentuan terkait perubahan konsep bangunan agar tidak bersifat permanen serta tetap selaras dengan kawasan persawahan dan pariwisata Jatiluwih.

“Seng baru dicabut hari ini, jumlahnya kurang lebih seratus lembar. Besok bisa dilanjutkan dan kawasan ini kembali bersih,” pungkasnya.

Pencabutan seng dan plastik hitam tersebut dilakukan secara bertahap oleh para petani dan pengusaha setempat, dengan pengawasan aparat serta perangkat desa. Langkah ini dinilai menjadi bagian penting dalam upaya pemulihan wajah Jatiluwih sebagai destinasi unggulan Kabupaten Tabanan.

Baca Juga:  Razia Lapas Tabanan, 20 Warga Binaan Tes Urine Negatif

Seiring dengan pencabutan seng, Pengelola Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih menyatakan siap menggencarkan promosi pariwisata kawasan persawahan yang telah berstatus Warisan Budaya Dunia (WBD) UNESCO. Promosi akan kembali difokuskan setelah area persawahan dinyatakan bersih dari seng dan plastik yang sempat menutup bentang alam sawah terasering.

“Ini menjadi kabar baik sehingga kami bisa mempromosikan kembali Jatiluwih kepada calon wisatawan, terutama wisatawan mancanegara,” kata Manajer DTW Jatiluwih, I Ketut Purna yang akrab disapa Jhon, saat dikonfirmasi, Senin (5/1/2026).

Menurut Jhon, pemasangan seng dan plastik hitam di kawasan persawahan sebelumnya berdampak cukup signifikan terhadap citra pariwisata Jatiluwih, terutama di mata wisatawan asing yang sangat menaruh perhatian pada keaslian lanskap dan nilai budaya kawasan tersebut.

“Status Jatiluwih sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO harus dijaga bersama. Kebersihan dan keaslian kawasan menjadi daya tarik utama bagi wisatawan,” ujarnya.

Baca Juga:  12 Siswa Tabanan Berprestasi di FTBI Bali 2026, Disdik Raih Penghargaan

Pemerintah Kabupaten Tabanan menyadari bahwa polemik seng dan plastik hitam tidak hanya menyangkut aspek penataan kawasan, tetapi juga menyentuh langsung mata pencaharian masyarakat. Untuk itu, Bupati Tabanan berkomitmen mengupayakan solusi terbaik yang mampu meminimalisir dampak terhadap sektor pariwisata, tanpa mengabaikan kepentingan ekonomi warga Jatiluwih.

Langkah moratorium diharapkan menjadi ruang jeda bagi semua pihak untuk menyusun konsep penataan yang lebih berkelanjutan, selaras dengan nilai-nilai konservasi, adat, dan pariwisata. Pemerintah daerah juga akan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk desa adat, pengelola DTW, serta pelaku usaha lokal dalam merumuskan kebijakan lanjutan.

Dengan pencabutan seng dan dimulainya kembali promosi pariwisata, Jatiluwih diharapkan mampu bangkit sebagai destinasi unggulan yang tetap lestari dan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat. Sinergi antara pemerintah, petani, pelaku usaha, dan pengelola pariwisata menjadi kunci agar kawasan warisan dunia ini tetap terjaga sekaligus produktif bagi generasi mendatang.[ka]

 

BERITA LAINNYA

ARSIP BERITA

Silahkan pilih bulan untuk melihat Arsip Berita.

BERITA POPULER