TABANAN, MEDIAPELANGI.com – Kunjungan wisatawan ke Kabupaten Tabanan mengalami penurunan signifikan pada awal tahun 2026. Selama tiga bulan pertama atau triwulan I, jumlah wisatawan asing yang datang tercatat turun hingga 30 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Tabanan, A.A. Ngurah Agung Satria Tenaya mengungkapkan bahwa tren penurunan ini sebenarnya sudah mulai terlihat sejak akhir tahun 2025, tepatnya pada periode libur Natal dan Tahun Baru 2026.
“Untuk tahun ini, pada tiga bulan pertama tahun 2026, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Tabanan mengalami penurunan sebanyak 30 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2025,” jelasnya, Senin (30/3/2026).
Sebagai perbandingan, sepanjang tahun 2025 jumlah kunjungan wisatawan ke Tabanan mencapai sekitar 2,3 juta orang. Sementara pada triwulan pertama tahun 2025, jumlah wisatawan tercatat sekitar 700 ribu orang. Namun, pada periode yang sama tahun 2026, angka tersebut mengalami penurunan cukup tajam.
Penurunan ini tidak terjadi tanpa sebab. Satria Tenaya menyebutkan bahwa ada beberapa faktor utama yang mempengaruhi menurunnya minat wisatawan untuk berkunjung ke Tabanan, bahkan Bali secara umum.
Salah satu faktor yang cukup berpengaruh adalah kondisi geopolitik global, khususnya konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah. Ketidakpastian global membuat wisatawan mancanegara cenderung menunda atau membatalkan perjalanan ke luar negeri.
Selain itu, faktor keamanan juga menjadi perhatian serius. Maraknya kasus kejahatan yang melibatkan wisatawan asing di Bali dinilai berdampak langsung terhadap persepsi keamanan destinasi wisata.
“Faktor keamanan ini menjadi sangat penting, karena wisatawan tentu mempertimbangkan keselamatan saat berlibur. Jika muncul kekhawatiran, mereka bisa saja memilih destinasi lain,” ujarnya.
Tak hanya itu, persoalan lingkungan juga menjadi sorotan. Banyaknya sampah yang belum tertangani secara maksimal, terutama di kawasan pantai dan destinasi wisata, turut memengaruhi kenyamanan wisatawan.
Kondisi tersebut dinilai dapat menurunkan daya tarik destinasi wisata di Tabanan. Wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, kini semakin selektif dalam memilih tujuan wisata yang bersih dan ramah lingkungan.
Dampak dari penurunan jumlah kunjungan ini juga dirasakan langsung oleh sektor perhotelan. Tingkat okupansi hotel di Kabupaten Tabanan dilaporkan mengalami penurunan sejak akhir tahun 2025 hingga awal tahun 2026.
Menurut Satria Tenaya, salah satu penyebab menurunnya okupansi hotel adalah maraknya akomodasi tidak resmi seperti villa ilegal atau yang kerap disebut “villa bodong”, serta kos-kosan elite yang kini banyak diminati wisatawan.
Fenomena ini membuat persaingan di sektor akomodasi semakin ketat, sekaligus menggerus tingkat hunian hotel yang legal dan berizin.
“Banyak wisatawan memilih menginap di villa atau kos-kosan elite yang tidak terdata secara resmi. Ini tentu berdampak pada okupansi hotel,” tambahnya.
Melihat kondisi tersebut, pemerintah daerah diharapkan segera mengambil langkah strategis untuk mengatasi berbagai persoalan yang ada. Mulai dari peningkatan keamanan, penanganan sampah secara serius, hingga penertiban akomodasi ilegal.
Upaya pemulihan pariwisata menjadi sangat penting, mengingat sektor ini merupakan salah satu tulang punggung ekonomi daerah. Jika tidak segera ditangani, penurunan ini berpotensi berdampak lebih luas terhadap perekonomian masyarakat.
Dengan berbagai tantangan yang dihadapi, sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi kunci utama untuk mengembalikan kepercayaan wisatawan dan menghidupkan kembali sektor pariwisata di Kabupaten Tabanan.[ka]
Dapatkan Update Terbaru!
Ikuti kami agar tidak ketinggalan info terbaru. GRATIS!!!











