BerandaBangliKoster Motivasi Siswa SMKN 3 Kintamani Lewat Kisah Hidupnya

Koster Motivasi Siswa SMKN 3 Kintamani Lewat Kisah Hidupnya

BANGLI, MEDIAPELANGI.com – Gubernur Bali Wayan Koster menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-17 SMKN 3 Kintamani yang berlangsung di Desa Dausa, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Senin (11/5/2026).

Kehadiran Gubernur Koster didampingi Bupati Bangli Sang Nyoman Sedana Arta serta dua mantan Bupati Bangli, I Nengah Arnawa dan Made Gianyar.

Kedatangan rombongan disambut hangat ribuan siswa, guru, dan masyarakat setempat dalam suasana penuh kekeluargaan.

Dalam kesempatan tersebut, Wayan Koster tidak hanya memberikan arahan sebagai kepala daerah, tetapi juga membagikan kisah hidupnya yang penuh perjuangan sejak kecil.

Di hadapan para siswa, Koster mengenang masa kecilnya yang tumbuh dalam kondisi ekonomi serba terbatas di desa.

Ia mengaku sejak duduk di bangku kelas 4 SD sudah mulai bekerja membantu orang tua demi memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus biaya sekolah.

Berbagai pekerjaan berat pernah dilakoninya, mulai dari memburuh nyangkul, membajak sawah, hingga mengangkut bata merah dan bahan bangunan dengan berjalan kaki sejauh tiga kilometer.

“Waktu SD kelas 4 saya sudah bekerja membantu keluarga. Semua hasil kerja tidak pernah saya pakai sendiri, langsung diserahkan ke ibu untuk biaya sekolah,” ungkap Koster.

Ia juga mengenang kehidupan keluarganya yang sangat sederhana. Bahkan makanan sehari-hari saat itu hanya berupa ubi, talas, dan singkong.

Namun kondisi tersebut tidak membuatnya menyerah. Justru kehidupan keras yang dijalani sejak kecil membentuk karakter disiplin dan mental kuat dalam dirinya.

Dari lima bersaudara, hanya dirinya yang mampu melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi karena keterbatasan biaya keluarga.

Koster menceritakan bahwa berkat kemampuan akademiknya di bidang matematika, fisika, dan kimia, dirinya berhasil diterima di Institut Teknologi Bandung.

Baca Juga:  Diundang Siswa, Koster Datang dan Traktir Nasi Jinggo

Namun perjuangan menuju bangku kuliah tidaklah mudah.

Ia berangkat ke Bandung dengan bekal hasil menjual ayam, anak sapi, serta bantuan dari kerabat dan keluarga.

Untuk bertahan hidup selama kuliah, Koster mengajar les privat matematika sambil menjalani perkuliahan.

Dari penghasilan mengajar tersebut, ia membiayai kebutuhan hidup sehari-hari bahkan membantu keluarganya di kampung halaman.

“Kalau hidup susah jangan menyerah. Saya bisa sampai di titik ini karena kerja keras, disiplin, dan ditolong banyak orang baik,” ujarnya disambut tepuk tangan para siswa.

Dalam arahannya, Koster menegaskan bahwa perhatian besarnya terhadap sektor pendidikan lahir dari pengalaman hidup yang pernah dijalaninya.

Ia mengaku tidak ingin ada anak-anak desa di Bali yang putus sekolah hanya karena persoalan biaya.

Karena itu, saat menjadi anggota DPR RI, dirinya aktif memperjuangkan berbagai kebijakan pendidikan nasional, mulai dari Bantuan Operasional Sekolah (BOS), bantuan siswa miskin, hingga regulasi kesejahteraan guru dan dosen yang melahirkan tunjangan profesi guru.

“Guru-guru sekarang yang mendapat tunjangan profesi itu lahir dari perjuangan panjang. Dari nol menyusun konsepnya,” kata Koster.

Menurutnya, pendidikan merupakan jalan utama untuk memutus rantai kemiskinan dan membangun masa depan bangsa.

Ia juga menekankan pentingnya pemerataan akses pendidikan di Bali, termasuk perjuangannya menghadirkan minimal satu SMA dan satu SMK di setiap kecamatan.

Dalam kesempatan tersebut, Koster juga memberikan motivasi kepada siswa SMKN 3 Kintamani agar tidak minder berasal dari desa.

Ia menilai lulusan sekolah vokasi kini memiliki peluang besar bekerja di dunia internasional, terutama di sektor pariwisata dan hospitality.

Koster mengapresiasi perkembangan SMKN 3 Kintamani yang kini memiliki hampir 900 siswa dengan jurusan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.

Baca Juga:  Koster: Masa Depan Budaya Bali Ada di Tangan Generasi Muda

“Jurusan hotel dan restoran ini sangat cocok karena Kintamani adalah kawasan wisata internasional,” ujarnya.

Menurutnya, banyak lulusan sekolah vokasi Bali kini bekerja di Jepang, Korea Selatan, Eropa hingga kapal pesiar internasional.

Ia menilai anak-anak Bali memiliki karakter unggul seperti disiplin, jujur, dan cepat beradaptasi sehingga sangat dihargai di luar negeri.

“Anak-anak Bali di mana pun bekerja selalu dinilai baik. Mereka disiplin, jujur, dan mau bekerja keras,” katanya.

Karena itu, para siswa diminta serius mempersiapkan diri sejak dini dengan memperkuat keterampilan dan kemampuan bahasa asing seperti Bahasa Inggris, Jepang, Korea, maupun Mandarin.

“Kekayaan yang tidak pernah habis adalah ilmu pengetahuan,” tegasnya.

Dalam suasana penuh kehangatan, Koster juga menyerahkan bantuan kepada siswa dengan urutan kelahiran anak ketiga yakni Komang dan anak keempat yakni Ketut sebagai bentuk kepeduliannya terhadap keberlangsungan keluarga Bali dengan empat keturunan.

“Gunakan ini untuk membeli buku-buku pelajaran ya anak-anak,” ujar Koster yang langsung dijawab kompak para siswa dengan kata “Iya”.

Sementara itu, Kepala SMKN 3 Kintamani, I Komang Widiada, menyampaikan bahwa keberadaan sekolah tersebut lahir dari perjuangan masyarakat dan dukungan banyak pihak yang peduli terhadap pendidikan di Kintamani.

“Sejarah berdirinya SMKN 3 Kintamani adalah karena ada orang-orang baik,” ujarnya.

Ia menjelaskan, perkembangan sekolah berlangsung sangat pesat. Dari awal berdiri dengan sekitar 119 siswa, kini jumlah peserta didik mencapai 897 orang dan banyak lulusan telah bekerja di luar negeri maupun menjadi wirausaha mandiri.[*]

 

BERITA LAINNYA

ARSIP BERITA

Silahkan pilih bulan untuk melihat Arsip Berita.

BERITA POPULER