TABANAN, MEDIAPELANGI.com – Gerakan Pilah dan Kelola Sampah dari Rumah mulai menunjukkan dampak positif di tengah masyarakat Kabupaten Tabanan. Kebijakan pembatasan sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) kini perlahan mendorong perubahan perilaku warga untuk lebih bertanggung jawab dalam mengelola sampah sejak dari rumah tangga.
Salah satu respons positif datang dari Ni Made Serly Liana Dewi, warga Desa Dauh Peken, Kecamatan Tabanan. Ia mengaku awalnya sempat merasa keberatan dengan perubahan pola pengangkutan sampah yang tidak lagi seperti sebelumnya. Namun seiring berjalan waktu, dirinya justru menyadari bahwa kebijakan tersebut membawa dampak baik bagi masyarakat.
Saat ditemui di kediamannya, Senin (12/5), Serly menilai pembatasan sampah ke TPA secara tidak langsung mengajarkan masyarakat untuk mulai membiasakan memilah sampah dari sumbernya.
“Awalnya saya sempat berpikir kok jadi lebih ribet karena sampah tidak sesering dulu diambil. Tapi setelah dipikir-pikir, justru ini mengajarkan kita supaya berubah dan mulai bertanggung jawab memilah sampah dari rumah,” ujarnya.
Menurut Serly, saat ini keluarganya sudah terbiasa memilah sampah menjadi empat kategori, yakni organik basah, organik kering, residu, dan anorganik. Kebiasaan tersebut mulai diterapkan setelah mendapatkan edukasi mengenai pentingnya pemisahan sampah organik agar lebih mudah diolah.
Ia menjelaskan, sebelumnya keluarganya hanya memisahkan sampah menjadi tiga jenis, yakni organik, residu, dan anorganik. Namun organik masih tercampur menjadi satu sehingga menimbulkan bau dan sulit diolah.
“Setelah dikenalkan penggunaan komposter, ternyata organik basah dan organik kering lebih bagus dipisah. Tidak bau dan lama-lama bisa jadi pupuk. Sangat membantu terutama untuk rumah yang lahannya terbatas,” jelasnya.
Serly menilai kebiasaan memilah sampah sebenarnya tidak sulit dilakukan apabila dibiasakan sejak awal. Bahkan menurutnya, anak-anak dan lansia di rumah mampu mengikuti pola tersebut dengan baik.
“Anak saya sejak umur tiga tahun sudah tahu daun masuk organik, plastik ke anorganik, dan kertas ke residu. Ibu mertua saya yang sudah lansia juga bisa memilah. Jadi sebenarnya kalau dibiasakan, semua bisa,” katanya.
Dalam pengelolaan sehari-hari, sampah residu di rumahnya diangkut oleh TPS3R Sadu Kencana sesuai jadwal yang telah ditentukan. Sementara sampah anorganik seperti plastik, kardus, dan botol dikumpulkan untuk disetor ke bank sampah di lingkungan banjar.
Menurutnya, kebiasaan tersebut tidak hanya berdampak baik bagi lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi tambahan bagi keluarga.
“Plastik dan kardus kami kumpulkan lalu dibawa ke bank sampah. Memang nilainya tidak langsung besar, tetapi kalau rutin lumayan juga. Saya dan ibu mertua sekarang sudah punya tabungan sekitar Rp300 ribu dari hasil sampah,” ungkapnya.
Selain soal pemilahan, Serly juga menyoroti pentingnya menghentikan kebiasaan membakar sampah di lingkungan rumah tangga. Ia menilai pembakaran sampah dapat menimbulkan dampak buruk terhadap kesehatan masyarakat, terutama anak-anak dan lansia.
“Saya sangat mendukung sampah dipilah supaya tidak dibakar lagi. Sekarang saya punya bayi. Kadang masyarakat masih sedikit-sedikit bakar sampah. Padahal asapnya bisa mengganggu kesehatan orang lain,” tegasnya.
Ia berharap kesadaran masyarakat untuk memilah sampah dari rumah terus tumbuh karena menurutnya langkah tersebut tidak membutuhkan biaya besar maupun fasilitas yang rumit.
“Tidak perlu beli tempat sampah mahal. Pakai wadah seadanya di rumah juga bisa. Yang penting ada kemauan dan konsisten,” ujarnya.
Gerakan Pilah dan Kelola Sampah dari Rumah sendiri terus didorong Pemerintah Kabupaten Tabanan sebagai bagian dari upaya mengurangi beban TPA sekaligus membangun budaya pengelolaan sampah berbasis sumber.
Melalui perubahan perilaku masyarakat di tingkat rumah tangga, pemerintah berharap tercipta lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.[*]
Dapatkan Update Terbaru!
Ikuti kami agar tidak ketinggalan info terbaru. GRATIS!!!











