TABANAN, MEDIAPELANGI.com — Tanah Lot Art and Food Festival VII kembali memperlihatkan kuatnya daya tarik kawasan Tanah Lot sebagai destinasi wisata sekaligus ruang penggerak ekonomi masyarakat. Selama tiga hari pelaksanaan, sekitar 10 ribu wisatawan tercatat berkunjung ke Daya Tarik Wisata (DTW) Tanah Lot, Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Tabanan.
Festival yang berlangsung hingga Minggu (30/8/2026) itu tidak hanya meningkatkan arus kunjungan. Mobilitas wisatawan juga ikut menggerakkan berbagai usaha di sekitar kawasan. Perputaran ekonomi selama tiga hari pelaksanaan festival diperkirakan mencapai Rp10 miliar.
Manajer Operasional DTW Tanah Lot, I Wayan Sudiana, mengatakan jumlah kunjungan selama festival berada pada kisaran 3.500 hingga 4.000 orang per hari.
“Selama tiga hari, kunjungan tembus 10 ribu. Puncak keramaian diprediksi terjadi nanti malam seiring dengan rangkaian acara penutupan,” kata Sudiana, Minggu (30/8/2026).
Menurutnya, jumlah tersebut mengalami peningkatan sekitar 20 persen dibandingkan kunjungan pada hari biasa. Beragam atraksi seni, budaya, kuliner, dan hiburan menjadi magnet tambahan bagi masyarakat maupun wisatawan yang datang ke kawasan tersebut.
Kemeriahan Tanah Lot Art and Food Festival VII tidak hanya dirasakan wisatawan lokal dan domestik. Wisatawan mancanegara juga turut mengunjungi kawasan Tanah Lot selama periode festival.
Sudiana menyebut, sepanjang Agustus 2026, wisatawan asing yang cukup banyak berkunjung ke DTW Tanah Lot berasal dari Australia, China, dan Taiwan.
Kehadiran wisatawan dari berbagai negara tersebut memperlihatkan bahwa Tanah Lot masih memiliki daya tarik kuat di tengah persaingan destinasi wisata Bali.
Festival menjadi salah satu cara untuk memberikan pengalaman tambahan kepada wisatawan. Mereka tidak hanya menikmati panorama kawasan Tanah Lot, tetapi juga dapat menyaksikan berbagai pertunjukan dan mengenal kekayaan seni, budaya, serta kuliner lokal.
Dampak paling terasa dari peningkatan kunjungan terlihat pada aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar Desa Beraban.
Sudiana memperkirakan perputaran ekonomi selama tiga hari kegiatan mencapai sekitar Rp10 miliar. Angka tersebut tidak hanya berasal dari transaksi di dalam kawasan DTW Tanah Lot, tetapi juga memperhitungkan aktivitas usaha di lingkungan sekitar yang ikut terdampak meningkatnya mobilitas pengunjung.
“Perputaran ekonomi estimasi menyentuh Rp10 miliar. Warung, salon, hingga hotel dan restoran di sekitar Desa Beraban juga terkena imbas,” ujar Sudiana.
Menurutnya, peningkatan kunjungan turut mendorong okupansi hotel dan aktivitas restoran. Pelaku usaha jasa seperti pekerja busana dan salon juga mendapatkan tambahan pekerjaan selama festival berlangsung.
Efek tersebut memperlihatkan bahwa sebuah event pariwisata dapat memberikan dampak berantai. Ketika wisatawan bertambah, kebutuhan terhadap makanan, penginapan, jasa, transportasi, hingga berbagai kebutuhan pendukung wisata ikut meningkat.
Dengan demikian, manfaat kegiatan tidak berhenti pada pengelola destinasi, tetapi ikut dirasakan pelaku UMKM dan usaha masyarakat yang berada di sekitar kawasan.
Sementara itu, Wakil Bupati Tabanan I Made Dirga mendorong agar Tanah Lot Art and Food Festival dapat terus digelar secara konsisten setiap tahun.
Menurut Dirga, keberlanjutan festival penting karena kegiatan tersebut mempunyai dua fungsi sekaligus, yakni memberikan hiburan kepada masyarakat dan wisatawan serta menjadi sarana promosi potensi pariwisata Tabanan.
Ia meminta penyelenggara tidak berhenti pada konsep yang sudah ada. Inovasi perlu terus dilakukan, baik melalui pengembangan konsep acara, atraksi seni dan budaya, kuliner maupun hiburan.
“Dibutuhkan kerja keras dan inovasi baru agar kunjungan meningkat sehingga menjadi terkenal,” ujar Dirga.
Bagi pemerintah daerah, peningkatan kunjungan harus diikuti dengan kualitas pengalaman wisata. Semakin menarik sebuah event, semakin besar pula peluang wisatawan untuk memperpanjang kunjungan dan mengenal destinasi lain di Tabanan.
Capaian sekitar 10 ribu wisatawan dan estimasi perputaran ekonomi Rp10 miliar selama tiga hari menunjukkan bahwa event pariwisata memiliki daya ungkit terhadap perekonomian lokal.
Lebih dari sekadar destinasi, Tanah Lot memiliki peluang dikembangkan sebagai titik kumpul berbagai aktivitas pariwisata Tabanan. Seni, budaya, kuliner, UMKM, ekonomi kreatif, hingga sektor akomodasi dapat dipertemukan melalui kegiatan yang dikemas secara berkelanjutan.
Konsep tersebut juga membuka peluang agar dampak kunjungan tidak hanya dirasakan Desa Beraban, tetapi meluas ke pelaku usaha dan destinasi lain di Kabupaten Tabanan.
Dengan konsistensi penyelenggaraan, kreativitas, dan inovasi, Tanah Lot Art and Food Festival berpotensi menjadi agenda yang semakin kuat dalam kalender pariwisata Bali.
Pada akhirnya, geliat festival bukan hanya tentang seberapa ramai kawasan wisata dikunjungi. Lebih penting, bagaimana keramaian tersebut menciptakan manfaat nyata bagi masyarakat dan memperkuat ekosistem pariwisata Tabanan secara berkelanjutan.[ka]
Dapatkan Update Terbaru!
Ikuti kami agar tidak ketinggalan info terbaru. GRATIS!!!











