DENPASAR, MEDIAPELANGI.com – Gubernur Bali Wayan Koster mendorong pemerintah pusat memberikan dukungan pembiayaan infrastruktur yang lebih proporsional bagi Bali. Dengan kontribusi devisa pariwisata yang disebut mencapai Rp176 triliun pada 2025, Koster menilai Bali membutuhkan dukungan anggaran yang sebanding untuk membenahi transportasi, pengelolaan sampah, ketersediaan air bersih, dan infrastruktur penunjang pariwisata.
Hal tersebut disampaikan Koster saat membuka The 2nd Indonesia Tourism Marketing Week (ITMW) 2026 di Ballroom Wantilan, Prama Sanur Beach Bali, Sanur, Denpasar, Sabtu (17/10/2026).
Menurut Koster, pariwisata merupakan sektor strategis yang memberikan dampak luas terhadap perekonomian. Karena itu, pengembangannya tidak cukup hanya mengandalkan keindahan alam dan kekayaan budaya, tetapi harus didukung infrastruktur serta layanan publik yang memadai.
“Kalau budaya, itu memang sudah anugerah. Tapi untuk mewujudkan pariwisata yang berkualitas, itu saja tak cukup. Transportasi dan infrastruktur harus bagus, sampah teratasi, air tersedia dan lain-lain,” ujar Koster.
Dalam paparannya, Koster menyebut jumlah kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara ke Bali pada 2025 mencapai 16,3 juta kunjungan. Pada periode yang sama, sektor pariwisata Bali disebut menghasilkan devisa sebesar Rp176 triliun, atau sekitar 55 persen dari total devisa pariwisata nasional yang mencapai Rp319,9 triliun.
Ia juga menyebut kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian Bali mencapai 66 persen. Menurutnya, besarnya peran tersebut turut memengaruhi pertumbuhan ekonomi daerah, produk domestik regional bruto (PDRB), penurunan kemiskinan, serta peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
Namun, pertumbuhan pariwisata juga menghadirkan tantangan yang perlu ditangani secara serius. Sejumlah persoalan yang disoroti antara lain alih fungsi lahan sawah, sampah, kemacetan, keterbatasan transportasi publik, kebutuhan air bersih, serta kasus penodaan tempat suci.
Koster menilai, berbagai persoalan tersebut membutuhkan penanganan terpadu dengan dukungan pembiayaan yang memadai.
Koster menyoroti kebijakan transfer dana ke daerah yang menurutnya perlu mempertimbangkan karakteristik dan kontribusi masing-masing wilayah. Ia menilai kebutuhan Bali berbeda karena infrastruktur dan layanan publik di pulau ini tidak hanya digunakan masyarakat lokal, tetapi juga menunjang aktivitas jutaan wisatawan setiap tahun.
“Setahu saya sejak duduk di DPR, kita belum pernah membuat kebijakan yang memperhatikan kondisi spesifik daerah. Transfer dana pembangunan untuk infrastruktur dipolakan dengan treatment yang hampir seragam untuk setiap daerah. Akibatnya kita tak memandang wilayah seperti Bali yang memberi kontribusi cukup besar bagi negara,” ungkapnya.
Atas dasar itu, Koster mengusulkan dukungan pembiayaan dengan nilai setara sedikitnya 5 persen dari devisa pariwisata yang disebut mencapai Rp176 triliun. Dana tersebut diharapkan dapat memperkuat pembangunan infrastruktur antarwilayah di Bali.
Menurutnya, dukungan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dapat membantu meningkatkan konektivitas, memperbaiki kualitas layanan publik, dan menjaga daya saing Bali sebagai destinasi internasional.
Koster mengingatkan persaingan pariwisata tidak lagi terbatas antardaerah di Indonesia, tetapi juga dengan destinasi negara lain. Ia menyebut Singapura, Malaysia, dan Thailand sebagai tolok ukur yang dapat dipelajari Bali dalam pembenahan infrastruktur dan peningkatan kualitas layanan.
“Negara-negara itu yang kami jadikan role model untuk ditiru. Sebab kalau tidak, daya saing Bali akan turun,” tegasnya.
Ia optimistis pembenahan infrastruktur akan memperkuat pariwisata berkualitas sekaligus memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat dan perekonomian nasional.
Setelah fondasi infrastruktur Bali semakin kuat, pengembangan pariwisata diharapkan dapat diarahkan pada peningkatan konektivitas dan kolaborasi dengan destinasi lain di Indonesia.
ITMW 2026 merupakan forum tahunan yang digagas MarkPlus Tourism (MCorp) dan mempertemukan pemerintah, pengelola destinasi, pelaku industri, akademisi, serta praktisi pemasaran pariwisata.
Mengusung tema “Reimagining Tourism: In a Fragmented World!”, kegiatan ini berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 di sejumlah lokasi di Bali. Forum tersebut menjadi wadah untuk memperkuat kolaborasi, inovasi, dan strategi pemasaran pariwisata Indonesia di tengah dinamika global.
Founder and Chair MCorp, Hermawan Kartajaya, menyampaikan bahwa ITMW diarahkan untuk memperkuat daya saing pariwisata melalui promosi digital, pemberdayaan komunitas lokal, dan pengembangan pariwisata berkelanjutan.
Ia juga menilai Bali memiliki pengalaman pengelolaan pariwisata yang dapat menjadi pembelajaran bagi daerah lain di Indonesia.
“Saya pikir, semua harus belajar dari Bali, juaranya di Indonesia,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan ITMW 2026 meliputi kompetisi meracik kopi, aksi konservasi lingkungan dan pelepasan tukik, diskusi digitalisasi dan kecerdasan artifisial (AI), serta konferensi yang menghadirkan pembicara nasional.
Koster berharap forum tersebut tidak hanya menjadi ruang promosi, tetapi juga mendorong kolaborasi antardaerah agar manfaat pariwisata semakin luas dan berkelanjutan bagi Indonesia.[*rls]
Dapatkan Update Terbaru!
Ikuti kami agar tidak ketinggalan info terbaru. GRATIS!!!











