BerandaBadungGede Jati, Petenis 18 Tahun Bali, Debut di M-15 Nusa Dua

Gede Jati, Petenis 18 Tahun Bali, Debut di M-15 Nusa Dua

NUSA DUA, MEDIAPELANGI.com – Petenis muda Bali, Gede Jati, mendapat kesempatan berharga tampil di turnamen profesional ITF Men’s World Tennis Tour M-15 seri kelima yang berlangsung di Kompleks Lapangan Tenis Internasional ITDC Nusa Dua, Bali.

Petenis berusia 18 tahun tersebut menjadi satu-satunya wakil Bali yang tampil dalam turnamen internasional yang berlangsung pada 6 hingga 13 September 2026 itu. Gede Jati tampil melalui jalur wild card dan langsung menghadapi lawan berat pada babak pertama.

Menghadapi petenis Australia Thomas Patton, yang berstatus unggulan ketiga, Gede Jati harus mengakui keunggulan lawannya. Pertandingan berakhir dengan skor 6-0, 6-0 untuk kemenangan Patton.

Meski kalah dua set langsung, penampilan Gede Jati di ajang tersebut dinilai menjadi pengalaman penting dalam proses pembentukan dirinya sebagai petenis profesional.

Gede Jati tidak mendapatkan lawan mudah pada pertandingan perdananya. Thomas Patton merupakan salah satu pemain yang memiliki posisi unggulan dalam turnamen M-15 tersebut.

Perbedaan pengalaman dan jam terbang di level internasional membuat pertandingan menjadi tantangan tersendiri bagi petenis muda Bali tersebut. Gede Jati akhirnya harus menyerahkan pertandingan kepada Patton setelah tidak mampu merebut satu gim pun pada dua set yang dimainkan.

Namun, hasil akhir bukan menjadi satu-satunya ukuran dari keikutsertaan Gede Jati. Kesempatan bertanding melawan pemain dengan pengalaman lebih tinggi justru menjadi bagian penting dari proses belajar yang tidak selalu didapatkan melalui latihan.

Pelatih Gede Jati, Nyoman Darwis Susila, mengatakan pihaknya tidak mempermasalahkan hasil menang atau kalah dalam turnamen tersebut. Menurutnya, hal yang lebih penting adalah pengalaman yang diperoleh Gede Jati selama mengikuti kompetisi internasional.

“Tidak masalah soal kalah menang dalam turnamen ini. Yang terpenting Gede Jati bisa menimba pengalaman dan menambah jam terbang dalam mengikuti turnamen internasional,” ujar Darwis, yang juga menjabat sebagai Binpres Pelti Bali.

Turnamen ITF Men’s World Tennis Tour M-15 merupakan salah satu level awal dalam jenjang kompetisi tenis profesional. Ajang tersebut menjadi kesempatan bagi pemain untuk mendapatkan pengalaman sekaligus mengumpulkan poin menuju peringkat dunia ATP.

Turnamen di Nusa Dua ini memperebutkan total hadiah sebesar 15.000 dolar AS. Bagi pemain muda seperti Gede Jati, kesempatan tampil dalam kompetisi tersebut memiliki nilai penting karena dapat memperkenalkan atmosfer pertandingan profesional sejak usia relatif muda.

Pengalaman menghadapi pemain asing, memahami tekanan pertandingan, hingga beradaptasi dengan tempo permainan profesional menjadi bekal bagi perkembangan kariernya.

Karena itu, kekalahan pada babak pertama tidak serta-merta menjadi gambaran akhir perjalanan Gede Jati. Justru, pertandingan tersebut menjadi salah satu tahapan untuk mengukur kemampuan sekaligus melihat aspek permainan yang masih perlu diperbaiki.

Ketua Pelti Bali Wayan Sudana mengapresiasi keikutsertaan Gede Jati dalam turnamen internasional tersebut. Menurutnya, tampilnya atlet muda Bali di kompetisi profesional menjadi salah satu indikator pembinaan tenis yang terus dilakukan.

Baca Juga:  Dua Petenis Bali Lolos Semifinal Bupati Badung Open 2026

“Ini merupakan salah satu barometer bahwa Pelti Bali gencar melakukan pembinaan atlet tenis lapangan dengan berusaha mengikutsertakan mereka dalam kejuaraan baik nasional maupun internasional,” kata Sudana melalui Humas Pelti Bali, Roy Emerson Hidiya.

Sudana berharap kesempatan tersebut dapat menjadi motivasi bagi Gede Jati maupun atlet tenis Bali lainnya untuk meningkatkan kemampuan. Menurutnya, proses menuju prestasi membutuhkan latihan yang serius, fokus, serta pengalaman bertanding yang berkelanjutan.

Keikutsertaan Gede Jati di M-15 Nusa Dua juga menjadi gambaran bahwa pembinaan atlet muda tidak cukup hanya dilakukan melalui latihan. Mereka perlu diberi ruang untuk menghadapi kompetisi dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi agar mental dan kemampuan bertanding berkembang.

Bagi Gede Jati, pertandingan melawan Thomas Patton mungkin berakhir dengan skor 6-0, 6-0. Namun, pengalaman tampil sebagai satu-satunya petenis Bali di level profesional menjadi modal penting untuk perjalanan berikutnya.

Kini, pekerjaan rumah Gede Jati adalah membawa pengalaman tersebut kembali ke sesi latihan, memperbaiki kekurangan, dan terus mengejar level permainan yang lebih tinggi. Dari kekalahan di Nusa Dua, perjalanan panjang menuju panggung tenis profesional justru baru dimulai.[*rls]

 

BERITA LAINNYA

ARSIP BERITA

Silahkan pilih bulan untuk melihat Arsip Berita.

BERITA POPULER