KARANGASEM, MEDIAPELANGI.com – Rangkaian Karya Ida Bhatara Turun Kabeh (IBTK) 2026 di Pura Agung Besakih resmi ditutup melalui upacara penyineban yang berlangsung khidmat pada Kamis (23/4/2026). Prosesi sakral ini menjadi penanda berakhirnya seluruh rangkaian karya yang telah berlangsung selama beberapa pekan, sekaligus menutup masa nyejer Ida Bhatara di Pura Penataran Agung.
Upacara penyineban dihadiri langsung oleh Gubernur Bali Wayan Koster bersama Sekretaris Daerah Provinsi Bali Dewa Made Indra, serta sejumlah tokoh penting lainnya dari unsur pemerintah, lembaga keagamaan, dan aparat keamanan. Kehadiran para pemimpin daerah ini menambah kekhidmatan prosesi yang menjadi bagian penting dalam siklus upacara besar di Pura Agung Besakih.
Tidak hanya hadir secara seremonial, Gubernur Koster juga menunjukkan keterlibatan langsung dalam tradisi keagamaan umat Hindu Bali. Di sela prosesi panyineban, ia turut “megambel” atau memainkan gamelan gangsa bersama para pemedek sebagai bentuk ngayah. Aksi tersebut menjadi perhatian umat yang hadir, bahkan banyak yang mengabadikan momen tersebut sebagai simbol kedekatan pemimpin dengan masyarakat serta penghormatan terhadap adat dan budaya Bali.
Suasana hangat juga tampak ketika Gubernur Koster dikerumuni para pemedek yang ingin berfoto bersama. Dengan sikap ramah, ia melayani permintaan tersebut tanpa mengurangi kekhusyukan jalannya upacara. Interaksi ini mencerminkan hubungan yang harmonis antara pemimpin dan masyarakat dalam bingkai tradisi spiritual yang kuat.
Prosesi penyineban diawali dengan pelaksanaan bhakti penganyar terakhir pada pagi hari, kemudian dilanjutkan dengan prosesi utama pada sore hari sekitar pukul 15.00 WITA. Rangkaian ritual meliputi doa bersama yang diikuti dengan berbagai tahapan sakral seperti Nuwek Bagia Pula Kerthi, nedungan Ida Bhatara, katuran tetingkeb ring ambal-ambal, hingga prosesi mundur mawali ke pesineban.
Selain itu, umat juga melaksanakan persembahyangan atau muspa kepada Ida Bhatara Lingsir serta rangkaian ritual ngeseng dan mendem Bagia Pulekerthi sebagai bagian dari penutup karya. Seluruh prosesi berlangsung dengan penuh kekhidmatan, mencerminkan nilai spiritual yang mendalam dalam setiap tahapan upacara.
Ketua Panitia IBTK Pura Agung Besakih, Jro Mangku Widiartha menjelaskan bahwa penyineban merupakan simbol berakhirnya masa nyejer, yakni periode ketika Ida Bhatara berstana di Pura Penataran Agung sejak puncak karya yang dilaksanakan pada 2 April 2026.
“Setelah doa bersama, seluruh pralingga Ida Bhatara kembali ke pelinggih masing-masing, menandai berakhirnya rangkaian karya,” ujarnya.
Ia menambahkan, prosesi penyineban dipuput oleh enam sulinggih yang memimpin di sejumlah titik utama di kawasan pura. Keterlibatan para sulinggih ini memastikan setiap tahapan upacara berjalan sesuai dengan tata cara dan pakem yang berlaku dalam tradisi Hindu Bali.
Selain prosesi keagamaan, panitia juga menyampaikan laporan keuangan pelaksanaan karya. Selama 21 hari pelaksanaan, total dana yang terkumpul mencapai Rp8,96 miliar, dengan pengeluaran sekitar Rp6,47 miliar, sehingga tersisa saldo akhir sebesar Rp2,48 miliar.
Jro Widiartha menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan pelaksanaan karya, mulai dari pemerintah daerah, aparat keamanan, lembaga keagamaan, hingga umat Hindu yang ngayah dengan penuh ketulusan.
“Kami menyadari masih terdapat kekurangan dalam pelaksanaan. Untuk itu kami mohon maaf sebesar-besarnya. Namun berkat dukungan semua pihak, karya ini dapat berjalan lancar dan mencapai tujuan secara sekala dan niskala,” ungkapnya.
Sebagai penutup keseluruhan rangkaian IBTK 2026, upacara Mejauman dijadwalkan berlangsung pada 26 April 2026. Upacara ini menjadi simbol akhir dari seluruh prosesi karya, sekaligus menegaskan keberlanjutan tradisi spiritual yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Bali.[*]
Dapatkan Update Terbaru!
Ikuti kami agar tidak ketinggalan info terbaru. GRATIS!!!











