TABANAN, MEDIAPELANGI.com – Dampak ambruknya gedung SDN 3 Sembung Gede di Kecamatan Kerambitan kini kian dirasakan para siswa. Setelah rencana penggunaan wantilan Banjar Mandung sebagai kelas darurat batal dilakukan, pihak sekolah akhirnya memutuskan siswa kelas I, II, dan III menjalani pembelajaran secara daring untuk sementara waktu.
Keputusan tersebut diambil menyusul kekhawatiran komite sekolah dan orang tua murid terhadap lokasi wantilan yang berada tepat di pinggir Jalan Denpasar–Gilimanuk, jalur nasional dengan arus lalu lintas padat dan dinilai berisiko tinggi bagi keselamatan anak-anak.
Kepala Sekolah SDN 3 Sembung Gede, Pande Komang Juni Arsana, mengatakan usulan belajar di wantilan sebelumnya memang sempat mengemuka sebagai solusi darurat pascaambruknya tiga ruang kelas dan satu UKS. Namun setelah dibahas bersama komite sekolah dan orang tua siswa, opsi tersebut dinilai belum aman.
“Ini permintaan komite sekolah dan orang tua murid agar kelas I, II, dan III disarankan belajar daring sementara. Mengingat wantilan itu berada di pinggir Jalan Denpasar-Gilimanuk, jadi risikonya sangat tinggi karena padatnya arus lalu lintas,” ujarnya saat ditemui di sekolah setempat, Senin (4/5/2026).
Selain faktor lokasi, keterbatasan tenaga pengawas juga menjadi pertimbangan utama. Pihak sekolah menilai pengawasan terhadap murid kelas rendah akan sulit dilakukan secara maksimal karena jumlah guru dan pegawai di SDN 3 Sembung Gede hanya 10 orang.
Dengan kondisi tersebut, keselamatan siswa dinilai lebih terjamin jika proses belajar sementara dilakukan dari rumah melalui sistem daring.
Meski demikian, pihak sekolah tidak menutup kemungkinan akan kembali membahas penggunaan wantilan sebagai alternatif jika keterbatasan ruang belajar semakin mendesak.
“Soal ini kami kembali rapatkan dengan orang tua murid karena kami tidak bisa memutuskan sendiri,” tegasnya.
Di sisi lain, upaya penanganan bangunan ambruk juga mulai dilakukan. Pada Sabtu (2/5/2026), tim dari BPBD Kabupaten Tabanan telah turun meninjau lokasi dan merencanakan pembongkaran gedung yang roboh serta pembersihan material bangunan.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan ambruk susulan yang dapat membahayakan siswa maupun guru.
“Rencananya Rabu lusa pihak BPBD datang ke sekolah untuk membongkar gedung yang ambruk ini,” jelas Juni Arsana.
Setelah proses pembongkaran selesai, pihak sekolah menyiapkan sejumlah skema darurat lain, di antaranya memanfaatkan ruang guru, perpustakaan, dan ruang kepala sekolah sebagai tempat belajar sementara bagi siswa kelas rendah.
Selain itu, setelah siswa kelas VI selesai mengikuti ujian sekolah, ruang kelas mereka juga direncanakan akan dialihkan untuk dipakai adik kelas.
“Ruangan kelas VI itu bisa dipergunakan untuk adik kelasnya. Saat ini total murid kelas I hingga III mencapai 71 orang,” pungkasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, bangunan SDN 3 Sembung Gede yang dibangun pada tahun 1980 ambruk karena kondisi bangunan yang sudah uzur dan kerusakan struktural yang terus meluas.
Salah satu ruang kelas bahkan telah dikosongkan hampir dua tahun akibat retak dan jebol, sebelum akhirnya kerusakan merembet ke ruangan lain hingga menyebabkan kelas IV, V, VI, dan ruang UKS roboh.[ka]
Dapatkan Update Terbaru!
Ikuti kami agar tidak ketinggalan info terbaru. GRATIS!!!











