BerandaBadungTrem Listrik Bandara–Canggu Disiapkan, Bali Targetkan 60 Ribu Penumpang per Hari

Trem Listrik Bandara–Canggu Disiapkan, Bali Targetkan 60 Ribu Penumpang per Hari

BADUNG, MEDIAPELANGI.com – Pemerintah Provinsi Bali bersama Pemerintah Kabupaten Badung dan PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mulai mematangkan rencana pengembangan transportasi perkeretaapian di Bali. Moda yang dipilih berupa trem listrik berbasis baterai dengan koridor awal Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai–Canggu, Kabupaten Badung.

Kerja sama pengembangan perkeretaapian tersebut ditandai dengan penandatanganan di Gedung Kertasabha, Denpasar, Selasa (1/9/2026). Proyek ini diarahkan menjadi salah satu alternatif transportasi massal untuk menjawab persoalan kepadatan lalu lintas yang semakin tinggi di kawasan Badung.

Konsep trem dipilih PT KAI setelah mempertimbangkan karakteristik wilayah Bali. Moda ini dinilai lebih sesuai dibandingkan pengembangan MRT maupun LRT karena memiliki ukuran relatif kecil, tingkat kebisingan rendah, serta dapat terintegrasi dengan moda transportasi lainnya.

Yang menjadi pembeda utama, trem tersebut dirancang menggunakan teknologi baterai. Dengan demikian, kendaraan tidak membutuhkan kabel listrik yang membentang sepanjang jalur.

Rute awal trem dirancang menghubungkan kawasan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai dengan Canggu. Panjang trase diperkirakan mencapai sekitar 12 kilometer dengan sistem jalur ganda.

Dalam rancangan awal, jalur juga akan dilengkapi area persilangan untuk mendukung kelancaran operasional. Lebar trase sekitar tiga meter, sedangkan dimensi trem diproyeksikan sedikit di atas dua meter sehingga relatif kecil dibandingkan bus.

Kebutuhan moda baru ini tidak terlepas dari tingginya mobilitas di koridor Bandara–Canggu. Setiap hari diperkirakan terdapat sekitar 150 ribu orang yang bergerak di kawasan tersebut dengan jumlah kendaraan mencapai sekitar 80 ribu unit.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pengembangan trem. Moda baru ini diharapkan mampu mengurangi kepadatan kendaraan, meningkatkan mobilitas masyarakat, memperkuat konektivitas kawasan pariwisata, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi.

Dari sisi operasional, trem diproyeksikan mampu mengangkut sekitar 15 ribu hingga 20 ribu penumpang dalam kondisi maksimal. Waktu perjalanan diperkirakan sekitar 30 menit dengan jarak keberangkatan antartrem sekitar 10 menit.

Jika beroperasi secara maksimal, kapasitas angkut trem diproyeksikan mencapai sekitar 60 ribu penumpang per hari. Jumlah tersebut diharapkan dapat mengakomodasi sekitar 40 persen kepadatan mobilitas pada koridor Bandara–Canggu.

Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan kerja sama tersebut merupakan tindak lanjut atas usulan Kementerian Bappenas dan Pemprov Bali untuk memperbaiki fasilitas serta sistem transportasi di Bali, terutama di Kabupaten Badung.

Menurutnya, pengembangan transportasi tidak boleh hanya mengejar aspek teknologi. Infrastruktur baru harus tetap memperhatikan keunikan Bali, menjaga keindahan lingkungan, mendukung pariwisata, serta tidak mengganggu kehidupan masyarakat.

Koster menegaskan keberadaan hotel, akomodasi wisata, objek pariwisata, lingkungan, permukiman, hingga aktivitas masyarakat di sepanjang trase harus menjadi perhatian dalam proses pembangunan.

Ia berharap trem nantinya tidak sekadar menjadi alat transportasi. Kehadirannya justru dapat menjadi pengalaman baru bagi wisatawan tanpa mengurangi kenyamanan kawasan.

PT KAI menempatkan aspek budaya, lingkungan dan kehidupan masyarakat lokal sebagai bagian penting sejak tahap perencanaan.

Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin mengatakan Bali memiliki karakter yang sangat khas, baik dari sisi budaya, spiritualitas, jati diri masyarakat maupun kehidupan sosial.

Baca Juga:  Koster Dorong Potensi Laut Bali Berbasis Riset dan Teknologi

Karena itu, pembangunan infrastruktur transportasi harus dilakukan secara hati-hati. Kemajuan teknologi, menurutnya, tidak boleh menghilangkan identitas dan harmoni Bali.

Penggunaan teknologi baterai juga menjadi bagian dari upaya mengurangi dampak lingkungan dan kebisingan, sekaligus menjaga kenyamanan masyarakat maupun wisatawan.

Setelah penandatanganan kerja sama, pemerintah dan PT KAI akan melanjutkan sejumlah tahapan, mulai dari studi teknis, kajian lanjutan, sosialisasi kepada masyarakat, pelibatan desa adat, hingga koordinasi dengan pelaku pariwisata, hotel dan akomodasi wisata.

Groundbreaking proyek ditargetkan berlangsung pada Maret 2027. Trase pertama diharapkan mulai beroperasi pada 2028, sementara seluruh jalur hingga Canggu ditargetkan rampung dan beroperasi pada 2029.

Jika terealisasi sesuai rencana, trem listrik Bandara–Canggu tidak hanya menjadi jawaban atas persoalan kemacetan. Moda ini juga diproyeksikan menjadi bagian dari wajah baru transportasi Bali yang lebih ramah lingkungan, efisien, dan tetap berpijak pada budaya serta kearifan lokal.

Keberadaan trem listrik Bandara–Canggu diharapkan menjadi langkah awal membangun sistem transportasi Bali yang lebih terintegrasi. Bukan hanya mengurai kemacetan, moda ini juga diharapkan memperkuat konektivitas kawasan wisata, memberi pilihan perjalanan yang nyaman, serta membuktikan bahwa modernisasi infrastruktur dapat berjalan berdampingan dengan budaya, lingkungan, dan karakter Bali.[*rls]

 

BERITA LAINNYA

ARSIP BERITA

Silahkan pilih bulan untuk melihat Arsip Berita.

BERITA POPULER