BerandaTabananPanen 90 Telur Sehari, Warga Binaan Lapas Tabanan Belajar Mandiri Lewat Peternakan

Panen 90 Telur Sehari, Warga Binaan Lapas Tabanan Belajar Mandiri Lewat Peternakan

TABANAN, MEDIAPELANGI.com – Aktivitas produktif menjadi bagian penting dalam proses pembinaan Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Tabanan. Salah satunya melalui peternakan ayam petelur yang dikelola secara rutin dan kini mampu menghasilkan rata-rata 90 butir telur setiap hari.

Panen telur yang dilakukan Warga Binaan Lapas Tabanan, Jumat (11/9/2026), bukan sekadar aktivitas menghasilkan bahan pangan. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembinaan kemandirian yang memberikan kesempatan kepada Warga Binaan untuk belajar bekerja, merawat ternak, menjaga tanggung jawab, hingga menghasilkan produk yang memiliki nilai guna.

Peternakan ayam petelur tersebut telah berjalan sekitar delapan bulan. Sebanyak 127 ekor ayam dipelihara dan dirawat secara rutin oleh Warga Binaan yang terlibat dalam program kegiatan kerja.

Dari jumlah ayam tersebut, produksi rata-rata mencapai 90 butir telur setiap hari. Hasil panen kemudian dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku kegiatan tata boga dalam program kegiatan kerja di Lapas Tabanan.

Sebagian hasil produksi juga dipasarkan kepada petugas Lapas. Dengan pola tersebut, kegiatan peternakan tidak berhenti pada proses pemeliharaan ayam, tetapi juga memberikan pengalaman kepada Warga Binaan mengenai proses produksi dan pemanfaatan hasil usaha.

Kepala Lapas Tabanan, Basuki Raharjo, mengatakan kegiatan peternakan ayam petelur menjadi salah satu sarana untuk mengembangkan keterampilan Warga Binaan melalui aktivitas yang dilakukan secara berkelanjutan.

Baca Juga:  Rest Area Selabih Tabanan Berdiri di Lahan Desa Adat, Pemanfaatan Lewat Pinjam Pakai

Menurutnya, pembinaan kemandirian memiliki tujuan lebih luas daripada sekadar memberikan keterampilan teknis. Warga Binaan juga dilatih untuk memahami tanggung jawab dan proses kerja secara konsisten.

“Pembinaan kemandirian tidak hanya memberikan keterampilan kepada Warga Binaan, tetapi juga memberikan ruang bagi mereka untuk belajar bekerja, bertanggung jawab, dan menghasilkan sesuatu yang memiliki nilai guna. Melalui peternakan ayam petelur ini, kami berharap Warga Binaan dapat terus mengembangkan kemampuan yang dimiliki dan menjadikannya sebagai bekal ketika kembali ke masyarakat,” ujar Basuki.

Pola pembinaan tersebut memberikan pengalaman nyata karena Warga Binaan terlibat langsung dalam proses perawatan ayam hingga menghasilkan telur. Rutinitas itu sekaligus melatih kedisiplinan dan ketekunan.

Salah seorang Warga Binaan yang terlibat dalam pengelolaan peternakan, Heri, mengaku memperoleh pengalaman baru selama mengikuti kegiatan tersebut.

Ia belajar mengenai cara merawat ayam petelur agar tetap sehat dan mampu menghasilkan telur berkualitas. Menurutnya, hasil produksi sangat berkaitan dengan konsistensi dalam melakukan perawatan.

“Saya belajar bagaimana merawat ayam petelur dengan baik agar menghasilkan telur yang berkualitas. Dari kegiatan ini saya juga belajar untuk lebih tekun dan bertanggung jawab, karena hasil yang didapat tidak terlepas dari bagaimana kita merawat ayam setiap hari,” ungkap Heri.

Baca Juga:  WNA Tiongkok Mengamuk di Tabanan, Dipindah ke Rudenim

Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses pembentukan kebiasaan kerja. Warga Binaan tidak hanya belajar mengenai peternakan, tetapi juga memahami bahwa sebuah hasil membutuhkan proses, ketekunan dan tanggung jawab.

Peternakan ayam petelur di Lapas Tabanan menjadi salah satu contoh bagaimana pembinaan kemandirian diarahkan agar Warga Binaan memiliki keterampilan yang dapat dikembangkan setelah menyelesaikan masa pidana.

Kemampuan merawat ayam, mengelola hasil produksi hingga memahami pemanfaatan produk menjadi pengalaman yang berpotensi diterapkan kembali di tengah masyarakat.

Lebih jauh, kegiatan produktif seperti ini juga membantu Warga Binaan menjalani masa pembinaan dengan aktivitas yang memiliki tujuan. Mereka memperoleh ruang untuk belajar dan bekerja secara terarah sekaligus membangun rasa percaya diri.

Melalui pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan, Lapas Tabanan berupaya menyiapkan Warga Binaan agar tidak hanya memiliki keterampilan, tetapi juga sikap kerja yang mendukung proses reintegrasi sosial.

Panen rata-rata 90 butir telur per hari dari 127 ekor ayam menjadi gambaran bahwa pembinaan kemandirian dapat diwujudkan melalui kegiatan sederhana namun produktif. Di balik setiap telur yang dipanen, terdapat proses perawatan, kedisiplinan dan tanggung jawab yang menjadi bagian dari bekal Warga Binaan sebelum kembali ke masyarakat.[*rls]

 

BERITA LAINNYA

ARSIP BERITA

Silahkan pilih bulan untuk melihat Arsip Berita.

BERITA POPULER