BerandaTabananLiterasi Tabanan Diperkuat, Bunda Rai Ajak Orang Tua Awasi Anak di Era...

Literasi Tabanan Diperkuat, Bunda Rai Ajak Orang Tua Awasi Anak di Era Digital

TABANAN, MEDIAPELANGI.com – Pemerintah Kabupaten Tabanan terus memperkuat budaya literasi sebagai fondasi mencetak generasi unggul di tengah derasnya arus digitalisasi yang semakin memengaruhi kehidupan anak-anak dan remaja.

Melalui kegiatan bertajuk “Literasi Cerdas Membangun Generasi Hebat Menuju Tabanan Era Baru yang Aman, Unggul, dan Madani”, Pemkab Tabanan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan literasi sebagai benteng menghadapi tantangan era digital sekaligus mencegah maraknya penyebaran informasi palsu atau hoaks.

Kegiatan yang dirangkaikan dengan Pengukuhan Duta Literasi, Duta Baca, dan Duta Demokrasi Kabupaten Tabanan tersebut berlangsung di Gedung Kesenian I Ketut Marya, Senin (20/4), hasil kolaborasi Pemerintah Kabupaten Tabanan bersama Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Tabanan dan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Tabanan.

Ratusan pelajar dari jenjang SD, SMP hingga SMA/SMK hadir dalam kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya menumbuhkan budaya membaca sekaligus memperkuat pemahaman demokrasi sejak usia dini.

Dalam kesempatan tersebut, Bunda Literasi Kabupaten Tabanan, Ny. Rai Wahyuni Sanjaya, atau yang akrab disapa Bunda Rai, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap perubahan pola kehidupan anak-anak akibat penggunaan gawai yang semakin tinggi.

Ia membandingkan masa kecilnya yang lebih banyak diisi dengan permainan tradisional dan interaksi sosial, dengan kondisi anak-anak saat ini yang sebagian besar waktunya dihabiskan di depan layar telepon pintar.

“Dulu sepulang sekolah kami bermain congklak, bermain di luar rumah bersama teman-teman. Sekarang banyak anak yang bangun tidur langsung memegang HP, pulang sekolah juga begitu, bahkan sampai lupa makan. Ini menjadi perhatian kita bersama,” ujarnya.

Menurut Bunda Rai, perkembangan teknologi memang tidak bisa dihindari. Namun, orang tua tetap memiliki tanggung jawab besar untuk mengawasi penggunaan gawai agar anak tidak terpapar konten negatif maupun informasi yang belum tentu benar.

Baca Juga:  Koster Ajak Masyarakat Jaga Keamanan Ruang Digital

“Kita tidak bisa menolak kemajuan teknologi. Yang harus dilakukan adalah mendampingi anak-anak ketika menggunakan smartphone agar mereka tidak salah menerima informasi,” katanya.

Bunda Rai menilai budaya membaca harus kembali dihidupkan mulai dari lingkungan keluarga hingga sekolah.

Menurutnya, kebiasaan membaca buku mampu membentuk kemampuan berpikir kritis sehingga anak tidak mudah percaya terhadap informasi yang beredar di media sosial.

“Mulailah dari rumah. Biasakan anak membaca buku yang sesuai usianya. Di sekolah juga perpustakaan harus kembali menjadi tempat yang menyenangkan agar budaya membaca tumbuh sejak dini,” jelasnya.

Ia mengingatkan bahwa maraknya penyebaran hoaks saat ini menjadi tantangan besar bagi generasi muda.

Karena itu, literasi tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan memahami, menganalisis, dan memverifikasi informasi sebelum mempercayai maupun menyebarkannya.

Senada dengan Bunda Rai, Duta Baca Kabupaten Tabanan, I Gede Paramartha Daisuke Matzusawa, menilai budaya membaca masyarakat Indonesia masih perlu terus ditingkatkan.

Menurutnya, masyarakat kini lebih banyak mengonsumsi informasi singkat melalui media sosial dibanding membaca buku secara utuh.

“Informasi di media sosial sering hanya berupa potongan-potongan yang bisa menimbulkan salah tafsir bahkan memicu penyebaran hoaks. Karena itu membaca buku tetap menjadi cara terbaik untuk memperoleh pemahaman yang lebih utuh,” katanya.

Ia berharap kehadiran Duta Baca di sekolah mampu menjadi motor penggerak budaya literasi di kalangan pelajar.

Menurutnya, meningkatkan minat baca tidak harus dimulai dari buku-buku berat.

“Kalau belum terbiasa membaca, mulailah dari buku yang disukai. Komik pun termasuk buku. Ketika seseorang menikmati apa yang dibacanya, minat membaca akan tumbuh secara alami,” ujarnya.

Baca Juga:  Satpol PP Tabanan Rekomendasikan Pembongkaran Restoran di Jatiluwih

Semangat yang sama juga disampaikan I Gede Febri Hartawan, Duta Baca dari SMA Negeri 1 Pupuan.

Ia menjelaskan bahwa sekolah telah menyiapkan berbagai program inovatif guna meningkatkan budaya membaca di lingkungan pendidikan.

Salah satunya melalui kompetisi resensi buku yang hasilnya dipresentasikan di depan teman-teman sekolah.

“Kegiatan ini bukan hanya meningkatkan minat baca, tetapi juga melatih keberanian berbicara, kemampuan berpikir kritis, dan komunikasi para siswa,” jelasnya.

Literasi Demokrasi Harus Dimulai Sejak Dini

Sementara itu, Duta Demokrasi SMA Surya Wisata Tabanan, Ni Kadek Ita Pratiwi, menegaskan bahwa literasi demokrasi juga tidak kalah penting untuk ditanamkan sejak usia sekolah.

Menurutnya, generasi muda harus memahami nilai kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab agar mampu menjadi warga negara yang cerdas dalam menentukan pilihan.

“Kami ingin membangun budaya demokrasi yang sehat sejak dini sehingga generasi muda mampu menjadi pemilih yang kritis, jujur, dan bertanggung jawab di masa depan,” ujarnya.

Melalui gerakan literasi yang terus diperkuat, Pemerintah Kabupaten Tabanan berharap mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, mampu menyaring informasi secara bijak, serta siap menghadapi tantangan era digital.

Penguatan budaya membaca, literasi digital, dan pendidikan demokrasi tersebut diharapkan menjadi bagian penting dalam mewujudkan Tabanan Era Baru yang Aman, Unggul, dan Madani, sekaligus menciptakan sumber daya manusia yang cerdas, adaptif, dan berdaya saing di tingkat nasional maupun global.[*]

 

BERITA LAINNYA

ARSIP BERITA

Silahkan pilih bulan untuk melihat Arsip Berita.

BERITA POPULER