BADUNG, MEDIAPELANGI.com – Gubernur Bali Wayan Koster kembali menegaskan pentingnya percepatan penguatan aksesibilitas transportasi menuju dan dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.
Menurutnya, langkah tersebut menjadi kebutuhan mendesak untuk mengantisipasi kemacetan yang semakin meningkat sekaligus menjaga kualitas layanan pariwisata Bali sebagai destinasi dunia.
Penegasan itu disampaikan Koster saat menghadiri Forum Group Discussion (FGD) Penguatan Aksesibilitas Transportasi dari dan menuju Bandara I Gusti Ngurah Rai yang berlangsung di Hotel Discovery Kartika Plaza, Kuta, Badung, Senin (15/6/2026).
Dalam arahannya, Gubernur Bali dua periode tersebut menyambut baik pelaksanaan forum yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan sebagai upaya mencari solusi konkret terhadap persoalan transportasi di kawasan bandara dan sekitarnya.
Menurut Koster, Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai merupakan pintu gerbang utama Bali yang memiliki peran sangat strategis dalam mendukung sektor pariwisata, investasi, dan pertumbuhan ekonomi daerah. Karena itu, akses transportasi menuju bandara harus menjadi perhatian bersama.
“Penguatan aksesibilitas transportasi keluar masuk Bandara Ngurah Rai merupakan kebutuhan yang sangat mendesak. Ini bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga menyangkut citra pariwisata Bali di mata dunia,” tegas Koster.
Ia mengingatkan bahwa persoalan kemacetan yang terjadi di jalur menuju bandara maupun kawasan sekitarnya dapat berdampak langsung terhadap pengalaman wisatawan. Jika tidak segera ditangani, kondisi tersebut berpotensi menurunkan daya saing pariwisata Bali.
Dalam kesempatan tersebut, Koster memaparkan tingginya aktivitas pergerakan penumpang melalui Bandara Ngurah Rai sepanjang tahun 2025. Berdasarkan data yang dimilikinya, jumlah wisatawan mancanegara yang masuk ke Bali mencapai 7,05 juta orang.
Sementara itu, wisatawan domestik yang menggunakan Bandara Ngurah Rai tercatat mencapai 9,2 juta orang. Dengan demikian, total pergerakan penumpang melalui bandara kebanggaan masyarakat Bali itu menembus angka lebih dari 16 juta orang dalam satu tahun.
“Kalau ditotal jumlahnya mencapai lebih dari 16 juta penumpang. Angka ini menunjukkan betapa pentingnya keberadaan Bandara Ngurah Rai sebagai urat nadi pariwisata dan ekonomi Bali,” ujarnya.
Melihat tingginya jumlah pengguna jasa bandara tersebut, Koster menilai penguatan sistem transportasi dan rekayasa lalu lintas di kawasan sekitar bandara tidak bisa ditunda lagi.
Dalam forum tersebut, Koster meminta seluruh pihak yang terlibat untuk melakukan pemetaan secara menyeluruh terhadap titik-titik kemacetan yang selama ini menjadi persoalan.
Ia menegaskan bahwa penyelesaian masalah tidak bisa hanya berfokus pada satu ruas jalan atau satu titik tertentu. Sebaliknya, seluruh alur pergerakan kendaraan harus dianalisis secara komprehensif sehingga solusi yang dihasilkan benar-benar efektif.
“Petakan betul setiap titiknya. Jangan hanya fokus pada satu titik saja. Alur kendaraan harus benar-benar dipetakan agar solusi yang dihasilkan tepat sasaran,” tegasnya.
Koster berharap forum diskusi tersebut tidak berhenti pada tataran kajian semata, melainkan mampu menghasilkan rekomendasi yang konkret dan segera dapat direalisasikan.
Menurutnya, semakin cepat solusi diterapkan, semakin besar peluang Bali mengantisipasi persoalan kemacetan yang berpotensi mengganggu kenyamanan wisatawan.
Selain membahas akses jalan, Gubernur Koster juga menyinggung rencana pengembangan fasilitas Bandara Ngurah Rai, termasuk perluasan area terminal dan parkir.
Ia berharap pengelola bandara segera merealisasikan rencana tersebut guna mengimbangi peningkatan jumlah penumpang yang terus terjadi dari tahun ke tahun.
Menurut Koster, penguatan infrastruktur bandara harus berjalan seiring dengan peningkatan konektivitas transportasi di luar kawasan bandara agar pelayanan kepada wisatawan semakin optimal.
Sementara itu, Direktur Strategi dan Pengembangan Teknologi PT Angkasa Pura Indonesia, Ferry Kusnowo, menjelaskan bahwa FGD tersebut merupakan tindak lanjut dari forum serupa yang telah dilaksanakan sebelumnya.
Menurutnya, penguatan aksesibilitas transportasi Bandara Ngurah Rai membutuhkan pendekatan yang terintegrasi, bertahap, dan melibatkan berbagai pihak.
“Tujuan forum ini untuk memperoleh masukan yang lebih luas sehingga menghasilkan kajian yang komprehensif dan implementatif,” jelas Ferry.
Forum tersebut juga menghadirkan akademisi Universitas Udayana, Prof. Ir. Putu Alit Suthanaya, yang memaparkan hasil kajian terkait penguatan aksesibilitas transportasi menuju dan dari Bandara Ngurah Rai.
Melalui sinergi antara pemerintah, pengelola bandara, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya, diharapkan lahir solusi strategis yang mampu mengatasi kemacetan, meningkatkan konektivitas transportasi, serta memperkuat posisi Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai sebagai gerbang utama pariwisata Indonesia di Bali.[*]
Dapatkan Update Terbaru!
Ikuti kami agar tidak ketinggalan info terbaru. GRATIS!!!











