DENPASAR, MEDIAPELANGI.com — Pendidikan karakter generasi muda menjadi salah satu perhatian dalam pertemuan Ketua Tim Pembina Posyandu Provinsi Bali, Ibu Putri Koster, dengan jajaran Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Bali. Salah satu program yang disiapkan adalah webinar tentang Catur Guru yang menyasar pelajar SMP, SMA dan SMK.
Pertemuan tersebut berlangsung di Gedung Nari Graha, Denpasar, Senin (21/9/2026). Audiensi membahas penguatan sinergi dalam pendidikan karakter, pemahaman nilai-nilai agama Hindu serta pemberdayaan masyarakat.
Dalam pertemuan itu, Putri Koster menyampaikan dukungannya terhadap keberadaan dan program WHDI Bali sebagai organisasi wanita Hindu yang memiliki ruang strategis dalam memberikan pemahaman mengenai nilai-nilai dan ajaran agama Hindu kepada masyarakat.
“WHDI penting untuk terus tumbuh dan aktif di tengah masyarakat sebagai wadah komunikasi dan informasi mengenai ajaran agama Hindu. Dari sini kita dapat memperkuat pemahaman umat sekaligus membentuk pola pikir, sikap, dan perilaku yang berlandaskan nilai-nilai agama,” ujar Putri Koster.
Ketua WHDI Bali, Tjokorda Istri Sri Ramaswati, menyampaikan rencana pelaksanaan webinar bertajuk “Catur Guru”.
Program tersebut secara khusus menyasar kalangan remaja, terutama siswa SMP, SMA dan SMK. Pemilihan kelompok usia tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pendidikan karakter di tengah perkembangan teknologi dan kehidupan digital.
Materi mengenai Catur Guru diharapkan tidak berhenti pada pemahaman keagamaan, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah perundungan atau bullying yang dapat terjadi di lingkungan anak dan remaja.
“Dengan memberikan pemahaman kepada anak-anak tentang Catur Guru, kita berharap mereka memiliki pegangan dalam berpikir dan berperilaku sehingga tidak keluar dari koridor nilai-nilai agama,” ujar Tjokorda Istri Sri Ramaswati.
Menurutnya, pemahaman terhadap Catur Guru diharapkan dapat membantu membentuk karakter individu yang lebih baik, kuat, beretika dan memiliki sopan santun.
Program tersebut sekaligus menjadi salah satu pendekatan pendidikan karakter dengan menghubungkan nilai agama dengan persoalan sosial yang dihadapi generasi muda.
Putri Koster menekankan bahwa pemahaman agama tidak cukup hanya diketahui, tetapi perlu tercermin dalam kehidupan bermasyarakat.
Menurutnya, nilai agama dapat menjadi pegangan dalam membangun tata krama, perilaku dan sikap toleransi di tengah keberagaman.
“Pemahaman agama harus mampu menjadi pegangan dalam kehidupan, termasuk bagaimana kita menjaga tata krama, perilaku, serta toleransi dalam hidup berdampingan dengan umat beragama lainnya,” imbuhnya.
Pesan tersebut menempatkan pendidikan agama tidak hanya sebagai pengetahuan, tetapi juga sebagai bagian dari pembentukan sikap dalam kehidupan sosial.
Bagi generasi muda, pemahaman tersebut diharapkan dapat menjadi bekal ketika berinteraksi di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat.
Selain pendidikan karakter, Putri Koster berharap WHDI Bali dapat mengambil peran yang lebih luas dalam mengedukasi dan mencerdaskan masyarakat.
Peran tersebut dapat dilakukan melalui pendidikan, pengajaran agama serta berbagai kegiatan sosial yang menyentuh kebutuhan masyarakat.
Sinergi antara Tim Pembina Posyandu Provinsi Bali dan WHDI Bali diharapkan dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan. Kerja sama tersebut juga diarahkan menjadi bagian dari kontribusi organisasi dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Hindu.
“Sinergi ini kita harapkan mampu menjadi legacy bagi organisasi dalam memajukan sumber daya manusia Hindu. Dengan ruang gerak yang berlandaskan ajaran Hindu serta tetap berpijak pada adat, dresta, dan kearifan lokal, kita ingin melahirkan sumber daya manusia yang unggul, berkualitas, dan berkarakter,” pungkas Putri Koster.
Pertemuan tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan karakter generasi muda menjadi salah satu ruang yang dapat mempertemukan program keagamaan, pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.
Melalui rencana webinar Catur Guru, WHDI Bali diharapkan dapat membuka ruang edukasi bagi remaja agar nilai-nilai agama tidak hanya dipahami sebagai pengetahuan, tetapi juga menjadi pedoman dalam membangun sikap, etika dan hubungan sosial di era digital.[*rls]
Dapatkan Update Terbaru!
Ikuti kami agar tidak ketinggalan info terbaru. GRATIS!!!











